Jilbab Ditakuti Kaum Sekuler

16 May, 2007 at 1:02 am (Artikel)

Dedi Turmudzi  

Jika anda rakyat biasa dan istri memakai jilbab dengan alasan keyakinannya, maka hal itu “relative tidak ada masalah“. Tapi tunggu dulu, jika yang memakai jilbab adalah isteri pejabat  yang  selalu tampil dengan rapi di muka publik, termasuk acara resmi kenegaraaan, kini menjadi momok yang menakutkan. Inilah yang terjadi di Turki, dimana Jilbab dianggap ancaman potensial bagi kelangsungan sekularisme di negeri setengah Eropa ini.

. Phobi tersebut menjalar dengan cepat ke bumi Amerika, The New York Times menurunkan fenomena tersebut dalam Editorialnya. Harian terkemuka di Amerika ini sejak December 2006 secara berurutan menurunkan 4 tulisan opini tentang apa yang dianggapnya sebagai ancaman bagai sekularisme di Turki.

Lalu pertanyaannya adalah, apa sebenarnya yang menjadi ketakutan  kaum sekular di Turki dengan symbol Jilbab yang ditampilkan beberapa istri pejabatnya?

The
Istanbul Journal
(edisi 29 April ), menyebutkan bahwa Islam Fundamentalist sedang menuju titik puncak kekuasaan, jika Gul (Menlu Sekarang) terpilih dan resmi menjadi President bulan Mei ini “ kata Ahmet Necdet Sezer, penjabat presiden Turki.

 

Gul dikenal moderat tapi istrinya selalu memakai jilbab kemanapun ia pergi bersama suaminya. Sementara itu kalangan kelas menengah Turki mulai menggeliat menunjukan identitas keislamannya dengan symbol Jilbab yang menjadi  pemisah antara sekular dan Islamist. Editorial The New York Times, 5 Desember 2006, menyebutnya  “Where Traditional  meet Shasay Along.”  Gejala ini dianggap ancaman bagi runtuhnya sekularisme di negeri Dynasti Ustmani, yang selama ini dikenal sebagai negeri Demokratis sekular.

 

Keadaan semakin meruncing saat 300,000  Protest Islamic
Hue of Turkish System
  (The Times, edisi 15 April  2007) berdemo menentang calon Presiden yang berlatar belakang Islam. Aksi ini menentang PM Turki, Recep Tayyib, yang telah menunjuk Abdullah Gul (menteri Luar Negeri saat ini) dinominasikan sebagai Presiden oleh Parlemen.

Minggu berikutnya The Times, edisi 25 April 2007 menurunkan editorial berjudul Presidential Pick in Turki is a sign of Raising of Islamic Middle Class” yang mengetengahkan “jika Gul terpilih maka  power support, posisi Panglima angkatan Perang dan hak Veto, akan jatuh di tangannya.”

Lantas apa yang ditakutkan dari latar belakang Gul?. Sederhana saja, ia berlatar belakang Islam yang kuat dan istrinya selalu berjilbab kemanapun dan dimanapun ia tampil. Kaum sekular takut “karena Gul dan kawan kawan sangat dedikatif, tidak minum alcohol, tidak main judi, tidak berlibur”, kata kolumnis Koran konservative Said Ali Bulac.

 

Disamping itu mereka juga sangat takut bahwa “kesamaan gender,  minum alcohol, dan pakai rok ketat bisa terancam dilarang.” Tulis Sabrina Tevernise, kolomnist The NY times

Bahkan Petinggi militer Turki, yang menjadi komandan  sekularisme, menegaskan tidak akan menginjakkan kakinya di komplek kepresidenan jika ada seorang wanita yang berjilbab. Sungguh suatu bentuk ketakutan yang luar biasa.

Gerakan Dakwah dan Issue Jilbab

 

Selanjutnya The Times menurunkan Editorial ”MEMO FROM
ISTANBUL; In Turky, Fear about Religious Lifestyle“
. yang mengungkapkan kekhawatiran kaum sekular bahwa Erdogan memiliki agenda tersembunyi untuk memberlakukan syariah Islam, saat kelak menduduki kursi kepresidenan. Erdogan dikenal berasal dari partai berbasis Islam yang memenangkan pemilihan pada tahun 2002. “Lihatlah istri istri mereka memakai jilbab“ kata Yalcin Turkdogan 61, seorang arsitek seraya menambahkan “Lihat istrinya Erdogan selalu memakai Jilbab”

“Jumlah wanita berjilbab yang pindah ke wilayah sekitar
Istanbul yang kaya raya sungguh sangat mengganggu”. kata Sevin Erzen, seorang PNS, menanggapi peningkatan pesat wanita berjilbab di Turki.

Apa sesungguhnya rahasia partai berbasis Islam mendapatkan dukungan grassroot yang pesat di Turki?. Dan mengapa wanita berjilbab dijadikan sasaran issue yang begitu kuat dan menentukan? Sederhana saja para Muslimah yang berjilbab mengunjungi rumah dari pintu ke pintu menawarkan bantuan pengajaran kepada wanita wanita buta huruf, demikian pula pusat kegiatan olahraga partai giat memberikan layanan gratis untuk therapi phisik bagi mereka yang cacat.

Issue Islamic phobi yang saat ini dikembangkan di Turki ternyata sangat efektif meredam menguatnya kelahiran gerakan dakwah Islam, walau telah menempuh ukuran-ukuran ‘kacamata demokrasi’ sebagaima digembar gemborkan Amerika. Opini ini kini terus berkembang dan dibaca ratusan juta rakyat Amerika yang mengaku negeri demokrasi dengan symbol kebebasan yang luar biasa.

Gul akhirnya gagal memenangkan pemilihan putaran pertama setelah parlemen dinyatakan tidak memenuhi kuorum melalui proses legal action di pengadilan.

 

Bagaimana dengan
Indonesia? Nampaknya hal serupa mulai terjadi, kaum sekular yang mempertanyakan jilbab sebagai produk Arab, budaya impor, dan sebutan lain yang menggambarkan jahiliyah berkedok intelektual terdengar kian nyaring. 
Bahkan pelecehan nilai-nilai syariat secara nyata dikukuhkan melalui proses pengadilan yang memenangkan Play boy tetap terbit dengan membebaskan Pemimpin Redaksinya. Demikian pula ketidak jelasan pengesahan atas RUU Pornoaksi dan Pornografi yang telah diperjuangkan sekian lama. Maka bukan hal yang mustahil jilbab phobia sebagai entry point akan menjadi gerakan awal yang mengancam kebebasan pelaksanaan syariat secara kaaffah di negeri muslim terbesar di dunia ini. Wallahu a’lam bisshawab.   (Dedi Turmudi edited by Wahyuis)            

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: