Strategi Zionis untuk Kuasai Timur Tengah

15 May, 2007 at 5:47 am (Artikel)

Bagi masyarakat dunia, sikap AS yang mendukung semua langkah dan tindakan rezim Zionis Israel sangat mengherankan. Pasalnya, selama ini, Washington selalu mengesankan diri sebagai rezim yang menginginkan penyelesaian krisis di Timur Tengah secara adil. Pembentukan komisi segi empat yang beranggotakan AS, Rusia, Uni Eropa dan PBB adalah salah satu langkah yang dilakukan Washington dalam hal ini.

Prakarsa perdamaian yang disebut “Peta Jalan” juga sebuah usul yang datangnya dari AS. Meski prakarsa itu dinilai tidak adil oleh banyak pihak, tetapi setidaknya prakarsa itu dijadikan bukti akan keseriusan AS dalam posisinya sebagai mediator perdamaian antara orang-orang Palestina dan rezim Zionis Israel. Untuk itu, pihak pemerintah otonomi Palestina dan sejumlah negara Arab menuntut pelaksanaan prakarsa tersebut, meski saat ini Peta Jalan damai bisa dikata sudah tidak ada lagi.

Tahun lalu, rezim Zionis Israel melalui regu pembunuhnya meneror dua tokoh utama Gerakan Perjuangan Islam Palestina (Hamas), yaitu Syekh Ahmad Yasin pendiri dan pemimpin Hamas, serta Doktor Abdul Aziz Rantisi pemimpin Hamas di Jalur Gaza. Teror terhadap Rantisi terjadi kurang dari sebulan setelah gugurnya Syekh Ahmad Yasin. Pembunuhan kedua tokoh perjuangan Palestina itu adalah contoh dari serangkaian aksi teror yang dilakukan rezim Zionis terhadap para pemimpin Palestina dan orang-orang yang oleh Tel Aviv dianggap berbahaya.

Ariel Sharon yang kini menjabat sebagai perdana menteri rezim ini adalah sosok manusia yang dikenal kejam dan tak berperikemanusiaan. Tahun 1947 Sharon bertugas menjaga pemukiman Zionis di bumi Palestina. Tahun 1953, dia terlibat dalam serangkaian aksi pembunuhan terhadap para pejuang Palestina. Kebenciannya kepada bangsa Palestina yang ia tunjukkan dalam berbagai aksi kejahatan telah menimbulkan gelombang protes pada pertengahan dekade 1950.

Ketika berhasil memosisikan dirinya sebagai panglima perang, Ariel Sharon memimpin langsung pembunuhan massal para pengungsi Palestina di kamp Sabra dan Syatila di Lebanon tahun 1982. Saat itu tercatat 3.000 pengungsi Palestina yang tak berdosa gugur akibat serangan brutal yang dilakukan tentara Zionis di bawah kepemimpinan Sharon. Peristiwa ini disebut sebagai kejahatan paling sadis terhadap warga sipil yang terjadi di abad 20. Akibatnya, dunia menjuluki Sharon dengan sebutan Penjagal Sabra dan Syatila.

Sejak awal memasuki dunia politik, Sharon menunjukkan penentangannya terhadap segala bentuk solusi damai dengan bangsa Palestina. Perjanjian Camp David, Oslo dan Madrid tak lain hanyalah sebagian dari sekian banyak omong kosongnya. Wajar jika setelah berhasil naik ke kursi kekuasaan dan menjabat sebagai Perdana Menteri, Sharon menjalankan politik tangan besi dan sebisa mungkin meneror, membunuh, serta merusak rumah dan ladang warga Palestina. Salah satu kebijakan Israel di bawah kepemimpinan Ariel Sharon adalah pembangunan dinding pemisah di Tepi Barat Sungai Jordan.

Di saat AS meneriakkan slogan kebebasan dan Hak Asasi Manusia, lalu menekan sejumlah negara dengan alasan pelanggaran HAM, Washington malah menutup mata dari segala macam kejahatan yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina. Bahkan dalam sebuah konferensi pers bersama, Presiden AS George Walker Bush justeru menyebut Ariel Sharon sebagai pemimpin Israel yang cinta damai dan rezim Zionis yang rasialis sebagai simbol demokrasi dan kebebasan.

Gerakan Zionisme sejak awal kemunculannya telah mencanangkan target-target yang harus diraih. Untuk mewujudkannya, gerakan Zionis perlu bersandar kepada sebuah negara kuat yang dapat perkembangan dan perwujudan cita-cita Zionisme. Prinsip ini adalah dasar pertama yang melandasi gerakan Zionisme dunia. Sejarah membuktikan bahwa gerakan ini selalu mendapat dukungan penuh kekuatan-kekuatan besar dunia.

Perjanjian Balfour tahun 1917, prakarsa pembagian Palestina menjadi dua bagian di Majlis Umum PBB, pembentukan rezim Israel, keanggotaan Israel di PBB setelah keluarnya Inggris dari Palestina dan usaha untuk memperoleh pengakuan internasional menyangkut rezim ini, adalah beberapa contoh nyata dari dukungan negara-negara kuat dunia yang berhasil diraih oleh kaum Zionis. Diplomasi gaya ini yang dijalankan kaum Zionis terus berlanjut sampai saat ini.

Setiap tahunnya rezim Zionis Israel bukan hanya memperoleh bantuan keuangan dari umat Yahudi dari berbagai belahan dunia, tetapi juga bantuan persenjataan dari negara-negara besar semisal AS. Menyimak hal itu, bisa disimpulkan bahwa kaum Zionis dalam menjalankan misi dan mengejar targetnya selalu mengedepankan bantuan kekuatan-kekuatan besar dunia. Tentunya, Israel tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memberi keuntungan kepada negara-negara yang mendukung dan membelanya.

Bantuan AS kepada Israel dan dukungannya kepada rezim ini bukan tanpa alasan. Untuk lebih memahaminya, ada baiknya kami angkat pernyataan Menahem Begin, mantan perdana menteri Israel. Tanggal 18 Maret tahun 1971 dalam wawancaranya dengan koran Israel Maariv, Begin menjelaskan kepentingan bersama AS dan Israel. Dia mengatakan, “Rakyat Israel telah membantu AS menyelamatkan kehidupan anak-anak negara itu. Karenanya, bantuan persenjataan AS kepada kami bukan karena hal khusus yang ada pada kami, tetapi karena adanya kepentingan yang sama antara dua bangsa.”

Ketegangan yang ada pada era perang dingin dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para pemimpin Zionis. Dengan permainan yang cantik mereka berhasil meyakinkan para penguasa Gedung Putih bahwa jika terjadi perang antara AS dan Uni Soviet, Israel pasti akan terlibat dan menjadi sekutu AS dalam perang itu. Yitzak Rabin, Duta Besar Israel untuk AS saat itu pada tanggal 14 Januari tahun 1972 kepada koran Maariv mengatakan, “Orang-orang AS yang telah menyaksikan sepak terjang kami yakin bahwa Israel akan resisten dalam menghadapi Uni Soviet dan komunisme.”

Mungkin Anda akan bertanya mengapa hubungan AS dengan rezim Zionis Israel sedemikian erat dan mengapa AS memberikan dukungan yang mutlak kepada Israel? Jawaban dari pertanyaan ini dapat ditemukan di tengah masyarakat AS. Di AS, kelompok Yahudi meski merupakan minoritas, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar. Sehingga bisa dikatakan bahwa kemenangan kandidat presiden dan partainya dalam pemilihan umum sangat tergantung pada besarnya dukungan lobi Yahudi AS kepadanya. Untuk itu tak mengherankan jika lobi Yahudi yang dekat dengan kaum Zionis ini lantas menjadi penentu kebijakan pemerintahan Gedung Putih. Hasilnya, adalah dukungan mutlak AS kepada Israel.[ahs/berbagai sumber]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: