Sokongan Eropa Terhadap Rezim Zionis Israel

15 May, 2007 at 5:38 am (Artikel)

Kepasifan dan kebungkaman negara-negara Eropa terhadap agresi masif Rezim Zionis Israel ke Lebanon sekali lagi membuktikan kelemahan peran Eropa di pentas politik Timur Tengah. Sikap Uni Eropa dalam menghadapi brutalitas Rezim Zionis di Lebanon dapat dicermati dari dua sisi. Pertama di tingkat internal dan kedua strategi diplomasi sejumlah negara Eropa dalam menyikapi konflik di Lebanon. Sikap diplomatik pertama Uni Eropa menyusul serangan Israel ke Lebanon, adalah surat yang dilayangkan oleh Presiden Perancis, Jacques Chirac, kepada Ketua Komisi Eropa, Jose Manuel Baroso, dan PM Finlandia, Martin Van Hanen. Dalam suratnya, Chirac berharap Eropa serius mengupayakan gencatan senjata segera dan penyalurn bantuan kepada para korban Lebanon.

Ketua Kebijakan Politik Luar Negeri Uni Eropa, Javier Solana, merupakan pejabat Eropa pertama yang berkunjung ke Beirut dan Tel Aviv untuk mengupayakan gencatan senjata. Solana juga menyerahkan laporan kunjungannya tersebut kepada 25 menteri Uni Eropa di Brussel. Namun, Kementerian Luar Negeri Uni Eropa justru mendukung penuh Rezim Zionis Isarel, meski tak radikal AS.

Sebenarnya, perbedaan sikap AS dan Uni Eropa dalam masalah serangan Rezim Zionis Israel ke Lebanon, hanya pada pernyataan saja. Karena pada praktiknya, AS dan Uni Eropa sama-sama memberikan dukungan dan bantuan besar kepada Israel untuk terus melanjutkan brutalitasnya di Lebanon. Jika AS mendukung Isarel dengan menentang pemberlakuan gencatan senjata segera, Uni Eropa mengharapkan gencatan senjata, penempatan pasukan penjaga perdamaian di Lebanon dan perlucutan senjata gerakan Hezbollah. Dukungan Eropa terhadap program perlucutan senjata Hezbollah, tak lain dalam rangka merealisasikan tujuan ambisius ilegal Rezim Zionis Israel. Sikap Eropa tadi juga menunjukkan ketidakseriusan Uni Eropa dalam menghentikan kebiadaban Rezim Zionis. Secara tidak langsung, Uni Eropa mendorong Israel untuk terus menebar brutalitasnya di Lebanon.

Setelah invasi AS ke Irak dan friksi antara negara-negara Eropa, peperangan di Lebanon merupakan krisis kedua terbesar yang menguak kelemahan peran Eropa di kancah politik Timur Tengah. Selan itu, Uni Eropa juga tidak dapat diharapkan bisa berbuat banyak karena dalam setiap kesempatan, Eropa selalu memihak Rezim Zionis Israel. Tak mengherankan jika penyelenggaraan Konferensi Roma yang juga dihadiri delegasi dari AS, gagal mencapai kesepakatan. Di antara negara-negara Eropa sendiri ada perbedaan sikap terkait krisis Lebanon. Dengan kata lain, negara-negara Uni Eropa dibagi menjadi dua. Pertama negara-negara kecil Eropa seperti Denmark, Belgia, dan Swedia, yang benar-benar bungkam dan menutup mata atas brutalitas Rezim Zionis. Negara-negara tersebut tidak terlibat langsung dalam tarik-ulur politik internasional dan selalu mengekor kebijakan AS dan Rezim Zionis. Kedua , negara-negara besar dan berpengaruh seperti Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, dan Italia. Selain PM Spanyol, Jose Luis Rodriguez Zapatero, yang mengecam keras brutalitas Rezim Zionis Israel di Lebanon, seluruh negara Eropa lainnya, mengemukakan pernyataan yang kurang lebih sama namun dengan gaya pengungkapan yang lebih lunak.

PM Inggris, Tony Blair, secara tegas mendukung sikap Presiden AS George W. Bush, yang mengacungkan jempol kepada para serdadu Israel atas agresi mereka ke Lebanon. Sikap Blair langsung dihujani kritik dari publik dan media massa dalam negeri Inggris. Mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Jack Straw, dan Ketua Parlemen Inggris, mengecam keras kebijakan Blair soal konflik di Lebanon. Berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas warga Inggris menentang keras dukungan Blair atas brutalitas Israel. Sejumlah media cetak Inggris, mempublikasikan karikatur Blair yang digambarkan sebagai anjing peliharaan Bush.

Jerman mengutus Menteri Luar Negerinya, Frank Walter Steinmeier, berkunjung ke kawasan, namun pada saat yang sama Berlin tetap menggulirkan kebijakan pasif soal krisis Lebanon. Italia berusaha menunjukkan sikap netral dengan menggelar Konferensi Roma. Namun, seperti yang sudah diprediksikan oleh para pengamat, Konferensi tersebut tidak akan menghasilkan keputusan apapun selama AS dan sebagian besar negara anggota Uni Eropa mendukung brutalitas Rezim Zionis. Sementara pada saat yang sama, Italita juga tidak dapat berbuat banyak dalam hal ini.

Di antara negara-negara anggota Uni Eropa, Perancis adalah yang paling gesit berupaya menghentikan peperangan di Lebanon. Pada pekan pertama agresi Rezim Zionis ke Lebanon, PM Perancis, Dominique DeFillepin, dan Menlu Perancis, Philippe Douste Blazy, berkunjung ke Beirut. Meski Presiden Perancis, Jaques Chirac, mendukung dan menyatakan solidaritasnya kepada bangsa Lebanon, namun para pejabat tinggi Perancis sama sekali tak menentang kebijakan Rezim Zionis. Usulan Perancis soal penempatan pasukan perdamaian multi-nasional di Lebanon dan perlucutan senjata Hezbollah, tak lain merupakan strategi untuk memuluskan jalan terealisasinya ambisi Israel. Namun, setelah tiga pekan berperang secara ksatria dengan Rezim Zionis, gerakan Hezbollah Lebanon menolak segala bentuk program yang hanya akan memperkokoh posisi Rezim Zionis Israel.

Secara keseluruhan, Eropa mendukung aksi pembantaian terhadap warga tak berdaya Lebanon oleh Rezim Zionis Israel. Krisis di Lebanon sekali lagi membuktikan bahwa Eropa akan menggunakan segara cara untuk memperkokoh posisi Rezim Zionis, meski Israel harus berbuat kebiadaban tragis seperti yang terjadi di desa Qana, Lebanon selatan. Soal tragedi Qana, Eropa hanya menyatakan sangat menyayangkan aksi pembantaian sadis tersebut. Krisis di Lebanon juga menyingkap wajah di balik topeng Barat dan berbagai lembaga internasional mulai dari Lembaga HAM dan Kebebasan Sipil Eropa hingga Amnesti Internasional. Lembaga-lembaga yang kerap meluapkan kebebasan dan cinta kemanusiaannya ketika menyikapi penangkapan para jurnalis, ternyata bungkam menyaksikan foto dan gambar-gambar para korban tragedi Qana. Sikap tersebut tak lain merupakan imbas dari dualisme Barat dalam masalah HAM.[ahs/berbagai sumber]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: