Sanjungan yang Menghanyutkan

15 May, 2007 at 2:26 am (Artikel)

Oleh Bahron Anshori

Bagi seorang muslim, membebaskan diri dari segala cela dan menghindar dari tipu daya setan adalah hal yang sangat menentukan dalam membentuk pribadi yang mukhlis dan mulia.
Banyak sekali tipu daya setan untuk menyesatkan hamba-Nya. Salah satu bentuk tipu daya setan yang cukup tangguh dan sering mengelabui muslim adalah sanjungan-sanjungan yang menghanyutkan.

Imam Ats-Tsauri menuturkan, “Apabila engkau bukan termasuk orang yang takjub terhadap diri sendiri, hal lain yang perlu diingat ialah; hindari sifat senang disanjung orang.” Maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain. Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan Allah SWT (dengan selalu mengingatnya).”

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridha Allah SWT, meskipun menimbulkan kemarahan manusia, niscaya Allah akan meridhainya dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia, hingga membuat Allah murka maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka terhadapnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam hadis dikisahkan tentang seorang lelaki yang berkata: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang yang kaya.

Keesokan harinya orang-orang membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata, “Seorang kaya telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya.”

Ia berkata lagi, “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam kedua dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata, “Seorang pencuri telah diberi sedekah!”

Lelaki itu hanya berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya dan seorang pencuri.” Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!”
Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pelacur. Keesokan harinya orang-orang membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata, “Seorang pelacur telah diberi sedekah!”

Lelaki itu hanya berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya, seorang pencuri dan pelacur.” Kemudian ditanyakan kepadanya perihal tersebut, ia pun berkata, “Semoga orang kaya itu dapat memetik pelajaran hingga bersedia mengeluarkan kewajiban zakatnya, semoga si pencuri itu dapat menjaga kehormatan dirinya dengan harta itu, dan semoga si pelacur dapat menjaga kehor-matan dirinya dengan harta itu hingga dapat meninggalkan perbuatan zina.” (HR. Muslim)

Dari hadis itu dapat dketahui bahwa para sahabat lebih suka bila hubungan antara mereka dengan Allah SWT tidak diketahui orang banyak. Mereka tidak suka orang lain mengetahui apa yang mereka amalkan.

Keikhlasan mereka telah meluruskan amalnya. Semoga Allah SWT mencurahkan keikhlasan kepada kita dalam berucap dan beramal, amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: