Kaum Ghuraba

15 May, 2007 at 2:49 am (Uncategorized)

Oleh Bahron Anshori

Rasulullah SAW bersabda, “Islam dimulai dalam kondisi asing, dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuraba’ (orang-orang yang asing tersebut).” (HR. Muslim)

Lafazh ghariiban; yang merupakan derivasi (kata turunan) dari lafazh al-Ghurbah memiliki dua makna: pertama, makna yang bersifat fisik seperti seseorang hidup di negeri orang lain (bukan negeri sendiri) sebagai orang asing. Kedua, bersifat maknawi, makna inilah yang dimaksud disini.

Yaitu bahwa seseorang dalam keistiqamahannya, ibadahnya, berpegang teguh dengan agama dan menghindari fitnah-fitnah yang timbul adalah merupakan orang yang asing di tengah kaum yang tidak memiliki prinsip seperti itu. Keterasingan ini bersifat relatif sebab terkadang seseorang merasa asing di suatu tempat namun tidak di tempat lainnya, atau pada masa tertentu merasa asing namun pada masa lainnya tidak demikian.

Makna kalimat “bada-al Islamu ghariibaa (Islam dimulai dalam kondisi asing)” adalah ia dimulai dengan (terhimpunnya) orang perorang (yang masuk Islam), kemudian menyebar dan menampakkan diri, kemudian akan mengalami surut dan berbagai ketidakberesan hingga tidak tersisa lagi selain orang perorang (yang berpegang teguh kepadanya) sebagaimana kondisi awalnya Islam.

Namun demikian, intisari hadis tersebut menunjukkan betapa besar keutamaan para Shahabat yang telah masuk Islam pada permulaan diutusnya Nabi SAW karena karakteristik tentang ghuraba’ tersebut sangat pas buat mereka.

Keterasingan (ghurbah) yang mereka alami adalah bersifat maknawi dimana kondisi mereka menyelisihi kondisi yang sudah berlaku di tengah kaum mereka yang telah terwabahi oleh kesyirikan dan kesesatan.

Berpegang teguh kepada al- Islam, beristiqamah dalam menjalankannya serta mengambil suri teladan Nabi SAW merupakan sifat seorang Mukmin yang hak yang mengharapkan pahala sebagaimana yang diraih oleh kaum ghuraba’ tersebut meskipun (dalam menggapai hal tersebut) kebanyakan orang yang menentangnya.

Yang menjadi tolok ukur adalah berpegang teguh kepada al-Haq, bukan kondisi yang berlaku dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya…” (Q.S. 6:116).

Riwayat lain mengatakan makna al-Ghuraba’ adalah orang yang lurus manakala kondisi manusia sudah rusak. Mereka adalah orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa kelurusan jiwa semata tidak cukup akan tetapi harus ada upaya yang dilakukan secara bijak, lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam memperbaiki kondisi umat yang sudah rusak agar label ghuraba’ yang dipuji dalam hadis di atas dapat ditempelkan kepada seorang Mukmin.

Hari ini, jika kita mau bertafakkur sejenak, mungkinkah julukan kaum ghuraba itu sudah kita sandang? Jawaban itu tentu ada dalam hati kita masing-masing. Bila kita mengatakan bahwa kita (khususnya umat Islam) hari ini adalah kaum ghuraba, maka apa dan mana buktinya?

Sebaliknya, jika hati kita menjawab bahwa kita bukan termasuk kaum ghuraba yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu, paling tidak ada itikad baik di hati kita untuk berusaha sekuat tenaga dengan menucurahkan segala pikiran untuk meraih gelar mulia tersebut.

Sebenarnya, usaha-usaha untuk meraih gelar kaum ghuraba itu hari ini sudah dilakukan sebagian kecil umat Islam. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara meraih gelar mulia tersebut.

Bila kita perhatikan lebih jauh, ada sebagian umat yang ingin meraih gelar kaum ghuraba itu dengan berpartisipasi seraya berlomba-lomba mendirikan partai politik. Kelompok ini berharap dengan memenangkan pemilu, mereka bisa menerapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh).

Tapi sayang seribu sayang, kelompok ini justeru kandas di tengah jalan. Sadar atau tidak, dengan mendirikan partai-partai politik itu justeru mereka telah masuk dalam perangkap Yahudi yaitu memecah belah umat Islam. Sekilas, tujuan kelompok ini ‘mulia’. Namun jika dicermati lebih jauh, maka kelompok-kelompok itu tak jauh beda dengan kaki tangan Yahudi yang diselipkan ke dalam tubuh umat Islam agar umat mulia ini menjadi budak-budak Yahudi.

Atas nama partai dan organisasi Islam, kelompok itu kini semakin menjauhkan umat dari meraih julukan kaum ghuraba. Umat hari ini semakin bingung kalau tidak mau dibilang dungu, karena menghadapi berbabagi fenomena busuk terselubung dibalik pakaian mulia.

Hanya Khilafah

Untuk kembali meraih gelar kaum ghuraba itu, tak ada jalan lain yang bisa dilakukan umat Islam ini kecuali kembali pada sistem KHILAFAH ‘ALA MIN HAJIN NUBUWWAH (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian). Sebuah sistem masyarakat Muslim yang berada hanya di bawah pimpinan seorang Imaamul Muslimin.

Hari ini, tak ada sistem yang lebih mulia dari pada sistem khilafah. Namun demikian, sistem khilafah ini akan menjadi ‘mandul’ jika umat hanya menjadi pengekor. Akhirnya, tak ubahnya sistem khilafah yang mandul itu ibarat tong kosong nyaring bunyinya.

Karena itu, siapa pun kita yang sudah menetapi kembali Khilafa ‘ala min hajin nubuwwah hendaknya bisa mengambil perannya masing-masing, sesuai dengan bidang dan ilmu yang telah Allah berikan pada kita.

Semoga apa yang sudah kita usahakan yakni menetapi khilafah ‘ala min hajin nubuwwah ini diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya sehingga kita bisa meraih gelar sebagai kaum GHURABA, amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: