Kaum Ghuraba

10 May, 2007 at 10:04 pm (Uncategorized)

Kaum Ghuraba

Oleh Bahron Anshori

Rasulullah SAW bersabda, “Islam dimulai dalam kondisi asing, dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuraba’ (orang-orang yang asing tersebut).” (HR. Muslim)

Lafazh ghariiban; yang merupakan derivasi (kata turunan) dari lafazh al-Ghurbah memiliki dua makna: pertama, makna yang bersifat fisik seperti seseorang hidup di negeri orang lain (bukan negeri sendiri) sebagai orang asing. Kedua, bersifat maknawi, makna inilah yang dimaksud disini.

Yaitu bahwa seseorang dalam keistiqamahannya, ibadahnya, berpegang teguh dengan agama dan menghindari fitnah-fitnah yang timbul adalah merupakan orang yang asing di tengah kaum yang tidak memiliki prinsip seperti itu. Keterasingan ini bersifat relatif sebab terkadang seseorang merasa asing di suatu tempat namun tidak di tempat lainnya, atau pada masa tertentu merasa asing namun pada masa lainnya tidak demikian.

Makna kalimat “bada-al Islamu ghariibaa (Islam dimulai dalam kondisi asing)” adalah ia dimulai dengan (terhimpunnya) orang perorang (yang masuk Islam), kemudian menyebar dan menampakkan diri, kemudian akan mengalami surut dan berbagai ketidakberesan hingga tidak tersisa lagi selain orang perorang (yang berpegang teguh kepadanya) sebagaimana kondisi awalnya Islam.

Namun demikian, intisari hadis tersebut menunjukkan betapa besar keutamaan para Shahabat yang telah masuk Islam pada permulaan diutusnya Nabi SAW karena karakteristik tentang ghuraba’ tersebut sangat pas buat mereka. Keterasingan (ghurbah) yang mereka alami adalah bersifat maknawi dimana kondisi mereka menyelisihi kondisi yang sudah berlaku di tengah kaum mereka yang telah terwabahi oleh kesyirikan dan kesesatan.

Berpegang teguh kepada al- Islam, beristiqamah dalam menjalankannya serta mengambil suri teladan Nabi SAW merupakan sifat seorang Mukmin yang hak yang mengharapkan pahala sebagaimana yang diraih oleh kaum ghuraba’ tersebut meskipun (dalam menggapai hal tersebut) kebanyakan orang yang menentangnya.

Yang menjadi tolok ukur adalah berpegang teguh kepada al-Haq, bukan kondisi yang berlaku dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya…” (Q.S. 6:116).

Riwayat lain mengatakan makna al-Ghuraba’ adalah orang yang lurus manakala kondisi manusia sudah rusak. Mereka adalah orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa kelurusan jiwa semata tidak cukup akan tetapi harus ada upaya yang dilakukan secara bijak, lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam memperbaiki kondisi manusia yang sudah rusak agar label ghuraba’ yang dipuji dalam hadis di atas dapat ditempelkan kepada seorang Mukmin. Wallahua’lam bishawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: