MUHAMMAD RASUL ALLAH

2 May, 2007 at 2:10 pm (Artikel)

 No.: 02/04/1428 H./04/2007 M. RABIUL AKHIR  

Muhammad itu  Rasul ALLAH, utusan ALLAH, penutup sekalian Nabi, yang diutus untuk sekalian manusia. ALLAH mengutusnya kepada ummat manusia dengan menyampaikan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan dia tidak diminta pertanggungan jawab tentang penghuni Neraka. “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan (Perkasa). Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Yang diwahyukan kepadaku hanyalah: Aku hanya seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallama, diutus oleh ALLAH untuk rahmat bagi seru sekalian alam termasuk manusia itu sendiri, dan mengajarkan kepada manusia Kitab Al Qur’an yang telah diwahyukan kepadanya dan hikmah (pengetahuan), supaya ia mengeluarkan manusia dari keadaan yang gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izin ALLAH, kepada jalan Al Aziz (ALLAH), dan sesungguhnya ALLAH itu bagi manusia sangat Pengasih lagi Penyayang. Dan kalau mereka (manusia) tidak memperdulikan (berpaling), maka kewajiban engkau hanyalah menyampaikan dengan jelas.”   

Dan Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah ALLAH menjadi saksi.”

Maka orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneguhkan pendiriannya, menyampaikan pertolongan kepadanya dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan besertanya, mereka itulah orang-orang yang berbahagia.

            Orang-orang yang mengikuti Nabi Muhammad, dan mentha’ati  apa yang diperintahkannya, dalam arti melaksanakan perintah-perintahnya, maka  berarti telah mentha’ati ALLAH, tetapi bila berpaling, tidak mentha’atinya, maka ALLAH tidak mengutus Rasul itu untuk menjadi pemelihara mereka. (Al Qur’an, surah Al-Fath: 29, Ali Imran: 44, Al Ahzab:40, Al Anbiya: 21,
Saba: 28, Al Baqarah: 119, Al Jumu’ah: 2, Ibrahim: 4, Al A’raf: 157. Shad: 66,65,70, An Nahl: 82, An Nisa’: 79, 80).

Tugas Nabi Muhammad  

            Tugas yang diamanatkan ALLAH kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Menyeru manusia agar mereka menyembah (mengabdikan diri)  kepada Allah dan menjauhi Thogut (Syaithan dan apa-apa yang disembah (diikuti) selain ALLAH) (An Nahl, 16: 36); ALLAH tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah/mengabdikan diri kepada ALLAH. (Adz-Dzariat: 56).

            Menyeru  mereka ke jalan yang lurus (As Shirothol Mustaqim), Ad-Diinullah, Islam,  tidak mencari jalan atau mengikuti cara-cara dan aturan-aturan hidup lain   yang akan mencerai-beraikan ummat (Al An’am, 153), dengan:

            Menyuruh orang-orang yang beriman agar jangan sekali-kali mati melainkan dalam keadaan Islam (Muslimin) dan berpegang teguh pada Tali ALLAH (Islam) dengan hidup berjama’ah dan menjauhi firqah, perpecahan, hidup bergolong-golongan (Ali Imran, 3:103), karena orang-orang yang berpecah belah (firqah-firqah), bergolong-golongan dan berselisih sesudah datang kepadanya bukti-bukti yang terang, mereka itu akan memperoleh azab yang besar (Ali Imran, 3: 105).

            Firman ALLAH di dalam Al Qur’an:

     ياايها الذ ين أمنوا اتقـوا الـله حق تقاته ولا تموتن الا وأنـتم مسلمون. واعـتصموا بحـبل الـله جـميعا     ولا  تفـرقـوا,     واذ كروا نعـمة الـله عـليكم إ ذ كـنـتم أعـداء فأ لف بـيـن قـلو بكم   فأصبحـتم بنعـمته       ! خوا نا, وكـنـتم عـلى شـفا حفـرة من النار فأنقـذ كم منها, كـذ لك يـبـيـن الـله لكم أياته لعـلكم تهـتد ون.       ( آل عـمـران: 102- 103)                     

            “Wahai orang-orang beriman! Bertaqwalah kepada ALLAH dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan  janganlah kamu mati melainkan dalam keadaaan kamu berserah diri (Muslim) kepada ALLAH.”

Dan berpegang teguhlah kamu sekalian  pada Tali ALLAH (Islam) dengan ber-jama’ah, dan  janganlah kamu berpecah belah (berfirqah-firqah: bergolong-golongan);   Dan ingatlah nikmat ALLAH atas kamu, tatkala kamu bermusuh-musuhan,  lalu IA menjinakkan antara hati-hati kamu,  dan dengan nikmat ALLAH itu kamu menjadi bersaudara, padahal dahulunya, kamu berada di pinggir lubang Neraka, tetapi IA selamatkan kamu daripadanya; demikianlah ALLAH menerangkan kepada kamu tanda-tanda (ayat-ayat)-Nya  agar kamu mendapat petunjuk.”

(Al Qur’an, Surah 3: Ali Imran: 102-103).

               Diriwayatkan oleh Taqi bin Mukhallid, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Hasyim dari ‘Awam bin Hausyab dari Sya’bi dari  Abdullah bin Mas’ud rodliallahu ‘anhu, ia berkata: “Yang dimaksud dengan kalimat “jami’an” dalam firman Allah: واعـتـصـمـوا بـحـبـل الـلـه جـميـعـا ولا تـفـر قـوا   adalah ا لجـما عـة Jama’ah. Sesungguhnya ALLAH memerintahkan menjalin kasih sayang dan melarang berfirqah-firqah, karena firqah itu menimbulkan kerusakan, sedang Jama’ah itu membawa keselamatan.”

               Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim, berkata ia, telah menceritakan pada kami Hasyim, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Awam dari Sya’bi dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya beliau mengatakan tentang Firman ALLAH: واعـتصموا بحبل الله جميعا   beliau katakan:  ا لجـما عـة  .    Ibnu Mubarak berkata: “Sesungguhnya Jama’ah itu Tali ALLAH. Maka pegang teguhlah!” (Al-Jami’ li ahkamil Qur’an, Muhammad Ibnu Ahmad Al-Anshary Al-Qurtuby, Daru Ihya it-turatsi Al-Araby Beirut: Juz 4: 159. 

            Telah menceritakan kepada kami Al-Mutsanna, ia berkata telah menceritakan kepada kami Amr bin ‘Am, ia berkata telah menceritakan kepada kami Hasyim dari ‘Awam dari Sya’bi dari Abdullah tentang Firman ALLAH Ta’ala: واعـتصموا بحـبل الله جميعا  beliau berkata    حـبل الـله  adalah  ا لجـما عـة . (Tafsir Jamiul Bayan, Ibnu Jarir At-Thobari, Juz 4 halaman 21.

                Ismail Ibnu Katsir Al-Quraisyi Ad-Damsyik dalam Kitab Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim: Juz I: 388-389, mengatakan:  Firman ALLAH  ولا تـفـرقـوا   “Dan janganlah kamu berfirqah-firqah” memerintahkan kaum Muslimin supaya berjama’ah dan melarang mereka berfirqah-firqah.” Dan banyak hadits yang melarang Muslimin berfirqah-firqah dan memerintahkan mereka berjama’ah dan menjalin kasih sayang.”

Jama’ah menurut syar’i adalah sebagaimana disebutkan dalam Atsar Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat dan terakhir dari Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyyyin, ia berkata: الجماعة والله مجامعة أهل الحق وان قـلوا, وا لفرقة مجا معة أهل الباطل وإن كثروا   “Jama’ah itu, demi ALLAH, berhimpunnya Ahlul Haq sekalipun hanya sedikit, dan firqah itu ialah himpunan ahli kebatilan, sekalipun mereka banyak jumlahnya.” (Kanzul Ummal, Al-Asykari, dalam Musnad Ahmad: juz 1: 109). 

             Ahlul Haq adalah ahli kebenaran. Sedangkan Haq (kebenaran) itu datangnya dari ALLAH. Di dalam Al-Qur’an surah 2: Al-Baqarah: 147: disebutkan:  الحق من ربك فلا تكونن من الممترين  “Haq (kebenaran) itu datang dari Robb-mu (ALLAH), karena itu janganlah engkau termasuk orang yang ragu.”

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

                    الـجـما عـة رحـمـة  وا ا لـفـرقة عـذاب ( الحـد يث رواه أحـمد عـن النعمان بن بـشـيـر )                  “Al Jama’ah itu rahmat, dan firqah itu ‘adzab.” (Hadits Riwayat Ahmad dari Nu’man bin Basyir: Musnad Ahmad: Juz 4: 375).

               Berkata Qatadah: Ahli rahmat ALLAH adalah ahli Jama’ah, meskipun  berpisah-pisah kampung mereka dan badan-badan mereka. Dan ahli ma’siat kepada  ALLAH adalah Ahli Firqah, meskipun berkumpul kampung-kampung mereka dan  badan-badan mereka.  (Tafsir Ibnu Katsir: Juz 2 halaman 465).

         Kehidupan Muslimin di bawah pimpinan Nabi Muhammad Shallallahu  ‘alaihi wa Sallam,  terpimpin dalam satu Jama’ah dan  Imamah. Ummat beliau, Umat Islam, Muslimin berada dalam satu shof yang utuh. Muslimin yang terpimpin hidup dan kehidupan mereka dalam pimpinan ALLAH dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad, hidup rukun dan damai.  

Tidak memaksa 

            Dalam melaksanakan tugasnya, beliau tidak memaksakan kehendaknya agar manusia memeluk Islam, karena sudah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.  (Al Baqarah, 2: 256).   Islam yang diserukannya adalah  Ad-Diin yang diridlai  (Ali Imran, 3: 19) dan aturan-aturan selain Islam, tidak akan diterima,  dan   di Akirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran, 3: 85). Dan orang-orang beriman diingatkan agar jangan  sekali-kali   mati  melainkan dalam keadaan Islam, berserah diri kepada ALLAH. (Ali Imran, 3: 102), dan berpegang teguh pada Tali ALLAH (Islam) dengan berjama’ah.

            Dan kepada orang-orang beriman diperintahkan  mengamalkan Islam  secara kaffah,  keseluruhan, dan tidak menuruti  langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi bagi Muslimin Mu’minin (Al Baqarah, 2: 208).            

            Katakanlah: “Aku berlindung kepada ALLAH (yang memelihara dan menguasai) manusia; Raja manusia; Sembahan manusia; dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi (mengendap), dari (golongan) jin dan manusia.” (An Naas, 114: 1-6).  Dan di dalam Surah Al An’am, 112, dijelaskan:

            Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dari apa yang mereka ada-adakan.”

Syaithan ini terdiri dari dua jenis. Pertama syaithan yang tidak kelihatan, tetapi sangat jahat, menggoda hati dan pikiran manusia untuk mendurhakai ALLAH dan Rasul-Nya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan Imam Bukhori dari Ali bin Husain, Nabi bersabda: “Sesungguhnya syaithan itu berlalu ke dalam tubuh anak Adam melalui pembuluh darah.”

            Jenis  Syaithan kedua adalah manusia, yang mengikuti langkah-langkah syaithan, melakukan kejahatan, menipu manusia lainnya, mendurhaki ALLAH dan Rasul-Nya, mengajak manusia ke pintu-pintu Jahannam, menyuruh manusia hidup berfirqah-firqah, pecah belah, dan menjauhi Jama’ah.

            Dari Umar rodliallahu’anhu, ia berkata: bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kamu berpegang kepada Jama’ah, dan kamu jauhilah berfirqah-firqah, karena sesungguhnya syaithan itu bersama orang menyendiri,  dan ia menjauhkan diri dari dua orang. Barangsiapa hendak bertempat tinggal di Jannah, maka hendaklah ia menetapi Jama’ah.”(Hadits Riwayat At Turmudzy, Ahmad dan Al Hakim).  Hadits ini shahih.

  

Sikap orang-orang beriman 

             Sesungguhnya Rasululah (Muhammad) itu adalah ikutan yang baik bagimu, yaitu bagi siapa-siapa yang mengharapkan ganjaran ALLAH dan balasan Hari Kemudian, dan senantiasa dia mengingat ALLAH.” (Al Ahzab, 33: 21).

             Dan  apa-apa yang diberikan Rasul (Muhammad) kepada kamu sekalian, maka hendaklah kamu mengambilnya, dan apa-apa yang dilarang kamu mengerja- kannya, maka hendaklah kamu menjauhinya, dan takutlah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu sangat keras siksa-Nya.” (Al Hasyr, 59: 7).

            Dan Kami (ALLAH) tidak mengutus seorang pun dari Rasul melainkan untuk ditha’ati dengan izin ALLAH.” (An-Nisa’, 4: 64).

            Katakanlah (Muhammad), Jika kamu sekalian cinta kepada ALLAH, maka ikutilah aku, niscaya ALLAH cinta kepada kamu, dan mengampuni dosa-dosa kamu, dan ALLAH itu Pengampun, Panyayang.” (Ali Imran, 3: 31).

            Tidak ada ucapan lain orang-orang yang beriman itu apabila diajak kepada ALLAH dan Rasul-Nya, untuk diberi hukum di antara mereka, melainkan mereka berkata:  “Kami dengar dan kami tha’ati; dan mereka itu adalah orang-orang yang berbahagia.”(An Nur,  24: 51). “Dan tha’atlah kamu sekalian kepada Rasul, mudah-mudahan kamu mendapat rahmat.” (An Nur, 24: 56).

            Barangsiapa yang mentha’ati Rasul, maka sesungguhnya ia telah mentha’ati ALLAH, tetapi barangsiapa berpaling, maka Kami (ALLAH) tidak mengutus engkau (Muhammad) untuk mengawal mereka. (An Nisa’, 4: 80).

            Dan barangsiapa yang mentha’ati ALLAH dan Rasul, maka mereka adalah beserta orang-orang yang telah ALLAH beri nikmat atas mereka, dari para Nabi dan Shiddiqin dan Syuhada dan Sholihin; dan alangkah baiknya berteman dengan mereka.” (An Nisa’, 4: 69). 

           

Sanksi menentang ALLAH dan Rasul  ALLAH berfirman:       “Dan barangsiapa yang menyalahi (melanggar peraturan) Rasul itu sesudah jelas nyata baginya petunjuk dan mengikut (jalan) orang-orang      yang bukan  jalan orang-orang yang beriman,  niscaya Kami (ALLAH)

akan palingkan dia kemana ia berpaling dan akan Kami panggang dia di neraka Jahannam, padahal mereka itu sejelek-jelek tempat kembali.” (An Nisa, 4: 115).

            “Yang demikian itu, karena mereka menyalahi (melanggar perintah-perintah) ALLAH dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang menyalahi ALLAH, maka sesungguhnya ALLAH itu sangat keras siksa-Nya.” (Al Hasyr, 59: 4).

            Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur, 24: 63).

            Dan barangsiapa yang menyalahi perintah ALLAH dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ALLAH, sangat keras siksa-Nya.” (Al Anfal, 8: 13). rd.s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: