Iman dan amal soleh

7 February, 2007 at 7:35 am (Artikel)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguh-nya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An-Nahl: 97)       

Faktor paling penting dan paling mendasar untuk menggapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat sesuai dengan firman Allah di atas adalah: Iman dan amal shalih. 

Iman merupakan sebuah dasar diterimanya semua amalan yang dilakukan setiap manusia, tanpa ada iman kepada Allah Ta’ala, apa-apa yang dikerjakan hanyalah sia-sia. Individu tanpa agama dan keimanan, laksana manusia yang tidak ada nilainya, selalu bingung, ragu-ragu, tidak mengetahui hakikat diri dan rahasia ujudnya. Ia akan berprilaku bagaikan binatang buas dan jahat, yang senantiasa ‘menerkam’ tanpa ada aturan-aturan yang membatasinya. Kebudayaan dan peraturan undang-undang yang dibuat manusia tidak mampu sama sekali membatasi kejahatannya. Lebih luas lagi, masyarakat tanpa agama dan keimanan, adalah masyarakat hutan, walaupun padanya bersinar tanda-tanda kemajuan. Kehidupan dan kelanggengan, hanya tersedia bagi si kuat dan si kejam, bukan bagi si utama dan si takwa. Mereka akan menjadi masyarakat yang bobrok dan celaka. Masyarakat yang rendah dan murah, karena tujuan penghuninya hanya tertuju untuk melampiaskan nafsu-nafsu syahwat dan perutnya semata, mereka bersenang-senang dan makan sebagaimana binatang-binatang makan.  

Sebaliknya, manusia yang berbekal keimanan yang benar dan bersih akan melahirkan masyarakat beradab (khairu ummah). Masyarakat yang senantiasa menyeru kepada kebaikan serta mencegah berbagaimacam kemungkaran. Hidup dalam Jama’ah dan menghindari perpecah (QS. Ali-Imran: 103). Sehinga predikat umat terbaik yang Allah sematkan bukanlah hanya sebuah angan-angan, tetapi benar bahwa kita adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menusia, sebagaimana masyarakat yang pernah diwujudkan pada masa Rasullullah dan para sahabat yang mengikutinya.

 Hakikat Iman  Iman menurut pengertiannya ialah kepercayaan yang meresap ke dalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Iman bukanlah semata-mata ucapan lidah, bukan sekedar perbuatan dan bukan pula hanya merupakan pengetahuan tentang rukun iman. 

Iman juga bukan semata-mata pernyataan seseorang dengan lidahnya, bahwa dia telah beriman (mukmin), namun hatinya tidak percaya, sebagaimana orang-orang munafik (beriman palsu) yang mengaku beriman. “Dan di antara manusia ada orang yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. (QS. Al-Baqarah: 8-9) Iman bukan pula semata-mata mengerjakan amal dan syi’ar yang biasa dikerjakan orang-orang beriman, karena banyak pula penipu-penipu besar yang pada lahirnya mengerjakan perbuatan baik dan peribadatan, sedangkan hati mereka kosong dari rasa kebaikan dan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagiamana disebutkan dalam firman Allah: 

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud ria (dengan shalat) di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. An-Nissa: 142) Bukan pula iman itu semata-mata mengetahui arti dan hakikat iman, padahal mereka tidak beriman. “Mereka mengingkari (keterangan-keterangan agama Allah) karena kezaliman dan sombong, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya…”. (QS. An-Naml: 14)] 

Pada firman Allah yang lain, “Sesungguhnya sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 146) Maka, iman yang sejati adalah keimanan yang dapat diterima akal sampai kepada tingkat keyakinan teguh, tidak digoncangkan oleh bimbang dan ragu. Tunduk patuh terhadap setiap perintah dan larangan-Nya. Sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya:   “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman (percaya) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15) 

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa yang kamu putuskan dan mereka menerima dengan senang hati”. (A-Nissa: 65) Pada ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman: “Ucapan orang yang beriman itu, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya untuk diputuskan perkara di antara mereka, hanyalah mengatakan, “kami dengar dan kami patuhi” dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. 

Keimanan dalam diri, selain sebagai keyakinan dalam hati hendaknya menimbulkan semangat bekerja (beramal) dan berkorban dengan harta dan jiwa (diri).

 Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengemukakan dan mengambarkan keimanan itu agar senaniasa di aplikasikan dalam bentuk budi pekerti yang baik dan amal yang berguna, sebagai garis pemisah antara orang-orang beriman dengan orang-orang kafir dan munafik, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:  “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang dengan harta dan dirinya di jalan Allah. Itulah orang-orang yang benar”. (Al-Hujurat: 15) 

Buah Keimanan Dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari 70 ayat yang menyebutkan iman itu sejalan dengan amal (perbuatan). Namun, tidak cukup pula dengan semata-mata amalan, melainkan Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk melakukan amalan yang baik (shalihat). Memberikan kebaikan untuk keduniaan dan keagamaan, untuk perseorangan dan masyarakat, juga kebaikan untuk kehidupan rohani dan kebendaan. 

Keimanan tanpa amalan shalihat hanyalah omong kosong. Karena, keimanan merupakan kepercayaan, kerja dan keikhlasan. Dan amal kebaikan itu adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan yang sempurna.  Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Iman itu bukanlah merupakan harapan dan bukan pula perhiasan lahir, melainkan yang tertanam dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan”. (HR. Ibnu Najjar dan Dailami)    

Orang yang beriman meyakini, bahwa kesuksesan hidup di dunia dan kebahagiaan di hari akhirat, tergantung kepada amal perbuatan yang merupakan buah dari iman. Surga di akhirat bukanlah diberikan kepada orang-orang yang malas beramal, melainkan untuk mereka yang beriman dan beramal soleh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “
Taman surga yang dipusakakan kepada kamu, disebabkan perbuatan baik yang telah kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)
 

Pada ayat lain, “Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan (pahala) terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. As-Sajadah: 17)  Tadzkirah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Qur’an
surat An-Nahl: 90 menjelaskan akan memberitakan dan menjanjikan bagi orang yang dapat mengumpulkan antara iman dan amal shalih untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia ini dan balasan di akhirat kelak. Karena, orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar yang dapat membuahkan amal shalih dan dapat memperbaiki kondisi hati, moral (tingkah lakunya), dan mau membantu saudaranya yang membutuhkan, berarti dia sudah mempunyai pondasi dan dasar keimanan yang kuat.
 

Banjir yang melanda hampir seluruh
Jakarta dan sekitarnya awal Ferbuari ini, hendaknya menjadi tadzkirah (pelajaran) bagi umat Islam khususnya. Mereka yang tertimpa musibah tengah membutuhkan uluran tangan (amal perbuatan) kita semua. Ini merupakan lahan jihad muslimin untuk membuktikan keimanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 Membantu penderitaan orang lain merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman. Allah menegaskan dalam Al-Qur’anul Karim: “…Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran…” (QS. Al-Maidah: 2) Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menegaskan dalam sabdanya, “Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang mukmin satu kesusahan dunia, pasti Allah akan menghilangkan satu kesusahan dunia, pasti Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa yang menolong seorang yang menderita kesukaran, pasti Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi malu (aib) seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah tetap menolong hamba-Nya selama hambanya itu suka menolong saudarannya.” (HR. Muslim) 

Mari kita bantu mereka! Mari kita peduli terhadap mereka yang kini sedang menderita itu! Kini waktunya untuk membuktikan keimanan kita dengan amal perbuatan.

Waallahu A’lam.

Tim Ukhuwah Syubban Jama’ah Muslimin (Hizbullah) menerima dan menyalurkan dana untuk korban banjir. Kirimkan bantuan anda ke:

BANK MUAMALAT
INDONESIA

Cab. Fatmawati. AN. BMT AL-FATAH CILEUNGSI

NO. REK. 304 00001 90

Setelah kirim, informasikan ke: Supardi: 0813 80 168 162, Deni: 0817 64 74 212

1 Comment

  1. vimalnegi said,

    dear friends

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: