Hijrah dan Langkah Strategis Pembangunan Umat

5 February, 2007 at 7:07 am (Artikel)

KH. Abul hidayat syaerodjie

Tahun ke 10 dari kenabian Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah tahun kesedihan. Puncak perlawanan dan kebengisan kafir Quraisy terhadap Rasulullah utusan Allah, mereka tidak segan-segan melakukan tindakan intimidasi, teror dan penganiayaan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya. Upaya permusuhan mereka semakin brutal setelah meninggalnya istri tercinta Rasulullah Khadijatul Kubro dan pamannya Abi Tholib sebagai pembela dakwahnya. Kematian dua tokoh ini terjadi secara berturut-turut pada tahun yang sama, sehingga tahun itu di kenal dengan sebutan ‘AM AL-HUZN ( tahun duka cita).

Kelapangan dakwah yang diharapkan datang dari kaum kerabatnya di Thoif, yakni Bani Saqif di luar dugaan. Justru sebaliknya, mereka mengusir dan melempari Rasul hingga beliau terluka. Peristiwa Isra Mi’raj pada tahun berikutnya telah menjadi obat penawar hati dan menghibur Nabi. Kebesaran Allah yang beliau lihat dan rasakan dalam perjalanan Isra dan Mi’raj sangat memperteguh keimanannya. Penderitaan akibat perilaku jahat Kafir Quraisy seolah-olah menjadi sirna dan tidak berarti apa–apa. Sejak peristiwa itu (tahun ke 11 kenabian) telah tampak tanda-tanda kemenangan dan kejayaan bagi Islam dan Muslimin, yaitu terjadinya Bai’atul Aqobah pertama dan kedua. Puluhan tokoh musyrikin dari Yastrib (Aus dan Khazraj) menyatakan bai’at masuk Islam dan siap jihad membela dan melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan seluruh jiwa raganya. Bahkan mereka berharap Rasulullah berkenan hijrah ke Yastrib (yang kemudian disebut Madinah). Sejak itulah Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah, sedang beliau sendiri menunggu perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Landasan Pembangunan Masyarakat Wahyu

Setelah turun perintah Allah, Rasulullah hijrah ke Madinah. Di Quba (dekat Madinah) beliau menetap selama empat hari untuk membangun masjid yang pertama, Masjid Quba. Sebagaimana di lukiskan oleh Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Masjid yang di dirikan atas dasar Taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.” (QS At-Taubah:108) 

Masjid kedua yang di bangun adalah Masjid Jum’at yang di gunakan untuk shalat Jum’at pertama oleh Rasulullah dan para sahabat, setelah itu beliau melanjutkan perjalanannya menuju Yasrib. Di sinilah Nabi membangun sebuah masjid yang kemudian di kenal hingga hari ini dengan sebutan Masjid Nabawi. Dan
kota Yasrib sendiri berubah namanya menjadi Madinah An Nabi atau Madinah Al Munawarah. Pembangunan masjid yang dilakukan Rasulullah ketika hijrah menandakan bahwa misi beliau di turunkan Allah adalah membangun umat berlandaskan pada tauhid yang berorientasi pada pengabdian (ibadah kepada Allah), bukan selainnya.
 

Setidaknya ada tiga hal yang dapat diambil dari peristiwa ini:   

Pertama, membangun masjid. Pekerjaan pertama yang di lakukan Nabi di Madinah ialah membangun masjid, bukan membangun benteng pertahanan, menancapkan jaringan kekuasaan, atau memperkokoh kedudukan. Ini menunjukkan bahwa peradaban yang akan di bangun adalah masyarakat yang berorientasi pada pengabdian kepada Allah. Peradaban Theo Centris Humanistik, yaitu masyarakat yang beradab dengan landasan Tauhid dan keluhuran Akhlakul Karimah yang menjunjung tinggi hak-hak kemanusiaan. Bahkan realita membuktikan masyarakat Islam saat itu menjadi tempat berlindung bagi orang-orang non muslim, tempat berteduh dari terik matahari dan obat penawar dahaga di tengah gersangnya iklim jahiliyah. Tidak heran jika kemudian Islam diterima oleh berbagai kalangan dan penganutnya begitu cepat berkembang. 

Dakwah Islam mencakup lintas etnis dan lintas batas teritorial yang bersifat rahmatan lil alamin ‘wama ar salnaka illa rohmatan lil alamin’ (QS. Al-Anbiya: 107). Hal ini mengingatkan kepada kita bahwa Islam adalah agama universal bukan agama lokal, sekaligus menolak kotak-kotak pemikiran sektoral dengan batas-batasan kebangsaan nasional, ashobiyah dan lain-lain. Islam bersifat universal dan rahmat bagi alam semesta. 

Kedua, membangun ukhuwwah mewujudkan Jamaa’ah Imamah. Setelah pembangunan masjid selesai, perintah Allah dan Rasul-Nya adalah melaksanakan sholat berjama’ah di masjid. Secara simbolik makna sholat berjama’ah harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti adanya Imam dan makmum menunjukkan bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang terpimpin, masyarakat yang ber-Imaamah bukan gundukan individu yang bertebaran bagai buih di lautan, tanpa kekuatan dan arah tujuan. 

Gerakan rukuk dan sujud yang kompak dan seirama. Inilah sebenarnya masyarakat Islam sebagai bentuk komunitas muslim yang semestinya kompak dan satu dalam suka maupun duka. Dan terakhir, lurus lempang dan rapatnya shaf dalam sholat, kaki menyentuh kaki, bahu dengan bahu. Hal ini mengingatkan bahwa umat Islam adalah umat yang saling bahu membahu, ringan sama dijinjing berat sama di pikul, kalbunyan yasudhu ba’duhu ba’dhon. Bagai bangunan, sebagian  mengokohkan bagian yang lain atau kal rajulin wahid seperti seorang tubuh laki-laki yang sehat dan normal, semua komponen anggota badan bergerak secara terpadu dan terarah. 

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman, “Adapun orang kafir sebagian dari mereka adalah penolong (pendukung) terhadap sebagian yang lain, jika kamu (Umat Islam) tidak berbuat apa yang diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (Q.S..Al-Anfal 73). 

Dalam mewujudkan saling tolong menolong itu, Rasulullah membangun masyarakat muslim yang berbentuk jama’ah kaum muslimin. Sebagaimana jawaban beliau ketika ditanya Hudzaifah bin Yaman tentang apa yang dilakukan ketika muslimin ditimpa kekacauan dan fitnah (dakhon/ perpecahan) seperti saat ini. Beliau dengan tegas mengintruksikan “Tal Zamu Jama’atal muslimin wa Immaamahum”. Tetapilah oleh kamu Jama’ah muslimin dan Imaam bagi mereka” (HR. Bukhari). Mereka bersatu atas dasar Aqidah ke Imanan kepada Allah dan diikat oleh perekat ukhuwah islamiyah. 

Pada sabda yang lain beliau menyebut dengan sebutan “Khilafah Ala Minhajin Nubuwah”, Kepemimpinan umat (Khilafah) yang mengikuti jejak kenabian. Pola juang dan kepemimpinan kenabian yang berbentuk Jama’ah Imaamah ini yang dilupakan oleh kaum muslimin. Padahal inilah manhaj bagi landasan strategi pembangunan umat. Jika ini dilupakan maka perjuangan kaum muslimin akan terlepas dari sunnah dan garis juang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin, dan yang akan terjadi adalah “Fitnatun Fil Ardhi wa Fasadun Kabirun”, fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar, karena mereka berpecah belah bahkan saling menindas satu sama lain yang akhirnya menimbulkan kerusakan yang besar dimana-mana. Rasulullah bersabda: “Al Jama’atu Rohmah Wal Furqotu Adzab”, berjama’ah itu rahmat dan berfirqoh-firqoh itu adzab. 

Ketiga, mengatur hubungan internal sesama muslim dan hubungan terhadap non muslim. Hal ini tertuang dalam Madinatul Charter (Piagam Madinah) yang intinya, menjaga kemaslahatan bersama, tolong menolong pada kebaikan dan taqwa dan tidak untuk perbuatan dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah: 2).La ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam beragama. Lakum dinukum waliyaddin, agamamu untuk kamu, untuk aku agamaku (QS. Al Kafirun) 

Dari hal tersebut di atas dapat dikembangkan menjadi satu bentuk kehidupan yang relegius (Islami), berbudaya tinggi dan berperadaban. Lazimnya oleh masyarakat modern hari ini disebut sebagai Masyarakat Madani yang sangat didambakan. 

TakhtimDunia adalah tempat beramal, dan akhirat tempat menuai/berhitung. Tidak ada lagi waktu untuk berleha-leha. Orang yang cerdas adalah mereka yang beramal kemuliaan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. 

Momentum hijriyah hendaknya dijadikan waktu untuk kembali introspeksi diri terhadap segala amal perbuatan yang telah kita lakukan. Berhijrah dari hal-hal yang buruk kepada yang baik, dan hijrah dari hal-hal yang baik ke yang lebih baik. 

Pun demikian dengan perjuangan menegakkan Islam, hijrah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam hendaknya dijadikan pelajaran bagi muslim saat ini, bagaimana sesungguhnya beliau menata peradaban menuju masyarakat madani. Masyarakat yang senantiasa menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai rujukan dalam memperjuangkan Islam. Isyallah, kebahagiaan akan bersama orang-orang yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya. 

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nissa: 69)   

Wallahu ‘Alam Bhis Showwab (AHI/MDP)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: