Bahaya Ghazwul Fikri

10 January, 2007 at 2:25 am (Artikel)

Oleh: Ali Farhan Tsani

Fadli Zon, M,Sc., intelektual muda Indonesia, memprihatinkan nasib muslimin di Indonesia yang terperangkap dalam jebakan konspirasi Barat (kuffar). Lewat konsep globalisasi, Barat menjual Gerakan Reformasi sebagai kuda troya penjajahan gaya baru. Barat juga membuat pemetaan kekuatan dan kelemahan muslimin Indonesia dengan berbagai proyek rencana penghancuran semua protector umat. Umat muslimin mayoritas dijebak ke dalam lingkaran liberalisasi globalisasi Barat dalam kemasan demokrasi dengan berdirinya partai-partai berlabel Islam, yang isinya malah jauh dari keteladanan Islam itu sendiri. Yang dikembangkan adalah sikap tidak adanya rasa persatuan dan kesatuan umat, tidak adanya keteladanan akhlak para pimpinan partai, dan mudah diadu domba oleh situasi yang ada.  Dalam skala global, Fadli menyebutkan hasil survey ilmiahnya bahwa secara empirik tidak ditemukan satu Negara pun di dunia ini, termasuk di kawasan negeri-negeri Timur Tengah, yang dapat meraih kemakmuran, kejayaan, kesejahteraan, dengan system demokrasi. Sementara generasi mudanya dininabobokan dengan berbagai program media sehingga lupa akan sejarah umat Islam di era awal perkembangannya. Umat kehilangan ruh perjuangan seperti yang telah dilakukan Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Salahuddin Al-Ayubi, dan orang-orang shaleh lainnya.  Melalui jalur globalisasi, Barat tidak ada henti-hentinya memurtadkan umat Islam dari aqidah Al-Quran dan As-Sunnah, melalui peperangan pemikiran abad modern atau apa yang disebut dengan Ghazwul Fikri. Ummat Islam yang merupakan ummat mayoritas (85%) dari penduduk
Indonesia merupakan sasaran prioritas Ghazwul Fikri. Segala potensi umat bukannya diberdayakan untuk pembangunan manusia seutuhnya tetapi justru dibuat bagaimana agar tidak berdaya.
 Puncaknya adalah seperti yang dinubuwwahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang nasib ummat Islam pada masa yang akan datang, menjadi seonggok makanan yang diperebutkan sekelompok manusia yang lapar lagi rakus. 

Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits, “Beberapa kelompok manusia akan memperebutkan kalian seperti halnya orang-orang rakus yang memperebutkan hidangan.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah karena kami waktu itu sedikit, ya Rasulullah?”. Jawab Rasul : “Tidak! Bahkan waktu itu jumlah kalian sangat banyak. Akan tetapi kalian waktu itu seperti buih lautan. Dan sungguh, rasa takut dan gentar telah hilang dari dada musuh kalian. Dan bercokollah dalam dada kalian penyakit wahn”.  Kemudian sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan penyakit wahn itu ya Rasulullah?”. Jawab beliau : “Cinta dunia dan takut mati”. (HR Ahmad) Allah mengingatkan kaum mukminin dalam firman-Nya, “….Dan tiada henti-hentinya mereka selalu memerangi kalian sehingga kalian murtad dari agama kalian, jika mereka mampu…” (QS Al Baqarah [2] : 217). Keunggulan Ghazwul Fikri 

Perang secara fisik (perang Afghanistan, Irak dan Libanon) pada umumnya ditakuti oleh kaum kuffar karena menyebabkan ribuan korban berguguran di pihak mereka, walau telah difasilitasi berbagai senjata dengan teknologi super canggih. Oleh karena itu, kaum kuffar mulai mengutamakan perang secara nonfisik (pemikiran), metode ghazwul fikri. Dengan metode yang sistematis mereka mulai melancarkan serangan pemikiran yang berwujud program-program yang dikemas dengan menarik. Sehingga tanpa disadari, ummat Islam mengikuti langkah kaum kuffar bahkan menjadi pendukung utama program-program yang mereka adakan. Tipu daya yang berbentuk perang pemikiran, perusakan akhlaq, sekulerisasi sistem pendidikan serta penjajahan di negeri-negeri kaum muslimin yang telah dikuasai terus mereka lakukan secara massif. Dan hal itu berhasil mereka lakukan setelah melalui perjalanan panjang. Di dalam sebuah artikel berjudul “Serangan Pemikiran dalam Pendidikan” pemerhati pendidikan Indra Y. mengungkapkan, dibandingkan dengan perang fisik, maka ghazwul fikri ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain :  Pertama, dana yang dibutuhkan tidak sebesar dana yang diperlukan untuk perang fisik. Kedua, sasaran ghazwul fikri tidak terbatas. Ketiga, serangannnya dapat mengenai siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Keempat, tidak ada korban dari pihak penyerang. Kelima, sasaran yang diserang tidak merasakan bahwa sesungguhnya dirinya dalam kondisi diserang. Keenam, dampak yang dihasilkan sangat fatal dan berjangka panjang. Dan kelima, efektif dan efisien. 

Target yang menjadi sasaran perang ghazwul fikri adalah pola pikir, intelektualitas, mental, dan aqidah. Apabila seseorang sering menerima pola pikir sekuler, mengedepankan ro’yu daripada wahyu Allah, maka iapun akan berpikir ala sekuler. Bila seseorang sering dicekoki paham materialis, liberalis, kapitalis atau yang lainnya, jarang menerima tausiyah dan ta’lim, maka merekapun akan berpikir dari sudut pandang materi.  Inilah bahaya ghazwul fikri. Ia akan menyeret seseorang ke dalam jurang kesesatan dan kekafiran tanpa terasa. Generasi muda umat Islam dimurtadkan dari ajaran Islam yang haq. Kaum kuffar menghendaki bagaimana Al-Quran dan As-Sunnah, serta keteladanan para khalifah rasyidah, tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Zionist Samuel Zwemer dalam Konferensi Al Quds untuk Para Pastor pada tahun 1935 membuat strategi, “Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang Islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian. Akan tetapi menjauhkan mereka dari Al Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga mereka menjadi orang- orang yang putus hubungan dengan Allah, dan sesama muslimin saling bermusuhan, menjadi terpecah-belah, dan jauh dari persatuan”.  Tegaknya Khilafah 

Dalam rangka Ghazwul Fikri, kaum Zionis Yahudi telah membuat suatu kesimpulan bahwa  musuh utama sasaran Ghazwul Fikri adalah umat Islam yang menginginkan tegaknya kembali khilafah yang mengikuti jejak kenabian (khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).  Namun, Allah Maha Kuasa, Maha Kaya, dan Maha Perkasa. Betapapun segala daya makar mereka gencarkan, tetapi rencana Allah sajalah yang menang. Firman Allah, “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran [3] : 54)  Juga janji Allah, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa…” (QS An-Nuur [24] : 55). Kalaupun ada kaum muslimin yang tidak meyakini lagi ajaran agama Islam yang mewajibkan tegaknya khilafah, Allah yang Maha Segala-galanya tidak akan dirugikan sedikitpun. Sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Maidah [5] : 54). Segala rintangan, serangan, intimidasi, teror, bahkan akan menghantarkan seorang mukmin menemui syahid, puncak kebahagiaan hakiki yang dicari. Bukan menjadi mundur dan kendor, tetapi justru semakin maju dan solid dalam jalinan “kal jasadil wahid”. Menghadap Allah dengan khusnul khotimah sebagai syuhada. Amin. Wallahu A’lam Bish Showab (Afta/MKP-02).

2 Comments

  1. versky rahendra said,

    bagus ustad tulisannya..salam dari emen2 di mesir…sampaikan salam kami juga buat ikhwan di pusat..syukran katsiran

  2. M.ZAINURI said,

    Kita sering kali bicara masalah kebangkitan umat, dan serangan musuh-musuh Allah namun mengapa kita masih saja bisa sarapan pagi, makan siang dan malam dengan gizi seimbang dan hidangan penutup?

    Mengapa pula kita masih bisa tertawa lebar hingga buah kelapa pun bisa masuk mulut kita? Mengapa pula kita masih saja sering kesiangan bangun subuh atau terlewat shalat malam dan saum sunah?

    Umat itu adalah kita. Bicara kebangkitan umat sebenarnya kita mebicarakan diri kita sediri. Sudahkan kita menjadi pribadi yang kokoh, megang teguh prisip iman dan teguh bersaksi, “Tiada tuhan selain Allah, dan ikhlas aku menjadikan Rasullah sebagai nabi panutan”?

    Ataukah……. sebenarnya penyakit wahn/AIDS (Aku Ingin Dunia tapi Sungkan Akhirat) itu ada dalam hati kita!!!!!

    Alangkah hinanya jika kita ini hanya buah yang terbuah dan tak dianggap…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: