Refleksi Akhir Tahun

6 January, 2007 at 5:41 am (Artikel)

Berbagai musibah menghampiri kita. Hanya dalam kurun dua hari, ratusan nyawa melayang akibat kapal karam. Kamis (28/12/06), Kapal Motor dan Penumpang (KMP) Trisatar 1, tengelam di Selat Bangka. Belum selesai pencarian terhadap korban, Sabtu (30/12/06), KM Senopati Nusantara juga tenggelam di perairan Pulau Mandalika, Jepara. Ratusan korbanpun bertambah.

Sementara belum satu hari berlalu ditahun baru ini, sebuah pesawat Adam Air dengan 96 penumpang (bahkan lebih) dinyatakan hilang. Sebelumnya pun berbagai musibah datang bersautan, gempa bumi terjadi di berbagai tempat dan merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa. Kekeringan, luapan lumpur, dan banjir bandang tak mau kalah ikut ambil bagian. Manusia tak dapat mengelak dari ketentuan Allah tersebut.

 Di sisi lain musibah dalam bentuk faham-faham sesat telah menyerang umat ini dan menyebabkan banyak orang Islam terjerumus kedalam kesesatan. Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme Agama, Hedonisme serta isme-isme lainnya telah banyak menjauhkan umat Islam dari mentauhidkan Allah. Eskalasi kerusakan pun lebih besar dibandingkan musibah yang datang secara fisik. Faham-faham ini mengakibatkan manusia menjauh dari Allah, aqidah mereka digadaikan hanya karena seonggok nasi dan sehelai pakaian. Ayat-ayat Allah mereka perjual-belikan. Perbedaan dan perpecahan dalam agama kian mengangga.

Begitu banyak musibah yang menimpa bangsa ini yang notabene mayoritas umat Islam. Apa yang sebenarnya Allah kehendaki? Bagaimana sikap kita seharusnya?

Sungguh, dalam setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi ini merupakan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa umat manusia tidak terlepas dari ketentuan Allah Ta’ala. Entah itu sebagai pelajaran, ujian, atau azab, yang pasti hal itu merupakan teguran kepada manusia agar menyadari akan dosa-dosa, keberadaan, dan tujuan hidupnya.

Benarlah apa yang di tulis oleh Salman Parisi dalam Hikmah “Memahami Bencana” (Republika, 2/1). Bahwa Allah telah menggariskan keseimbangan alam. Hujan turun sudah memiliki ukuran (takdir)-nya dan hutan juga sudah memiliki ukurannya sendiri. Ketika hujan turun maka hutan akan mengatur air supaya tidak terjadi bencana bagi manusia. Sebaliknya, ketika hutan itu dirusak, fungsi hidrologis hutan tidak lagi berjalan dengan baik, dan yang terjadi adalah apa yang kita saksikan saat ini. Banjir bandang, tanah longsor, serta berbagai musibah yang menimpa merupakan hasil ulah manusia yang senantiasa berbuat kerusakan. Itulah sunatullah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu. Dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23)   

Sunatullah atau hukum alam tidak terjadi dengan seketika. Dia selalu memberikan berbagai tanda-tanda kepada manusia. Akan tetapi seringkali manusia mengabaikan tanda-tanda tersebut, yang pada akhirnya keseimbangan alam menjadi rusak dan mengakibatkan bencana yang merugikan manusia itu sendiri.

Sabar, Syukur dan Ridho

Bagi seorang mukmin keadaan apapun yang menimpa akan menjadi kebaikan bagi dirinya, yang memuji tidak ada bedanya dengan yang mencela. Kebahagiaan dan kehinaan merupakan jembatan baginya untuk memperoleh kebaikan. Ia selalu berbaik sangka kepada Allah. Sabar, syukur dan ridho adalah sikap yang selalu dikedepankan atas segala kehendak-Nya. Sehingga Rasulullah pun takjub kepada sikap umatnya yang memiliki sifat seperti itu, beliau bersabda:

“Menakjubkan urusan mukmin itu. Sesungguhnya segala sesuatu bagi dirinya baik. Tidak ada yang demikian itu kecuali pada seorang mukmin. Apabila menimpa kepada dirinya suatu kemudahan, ia bersyukur maka kebaikan baginya. Dan apabila menimpa kepadanya suatu kesulitan, ia bersabar maka kebaikan baginya pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sikap sabar dan syukur memiliki keterkaitan seperti keterkaitan antara ni’mat dan cobaan, dimana manusia tidak dapat terlepas dari keduanya. Karena syukur menuntut adanya kesabaran dalam beramal. Sabar atas ketaatan,.sabar dari kemaksiatan, dan sabar menerima cobaan. Oleh karena itu, sabar adalah separuh iman, sebab tidak ada satupun jalan menuju keimanan kecuali pasti disertai kesabaran.

Sebaliknya, lawan kesabaran itu keluh-kesah yang notabene tercela, atau kekafiran yang membinasakan. Tidak ada pilihan bagi seorang muslim kecuali harus bersabar, dan jalan memperoleh  kesabaran yang baik adalah taslim (menerima) dan ridha kepada qadha’ (ketentuan) Allah Ta’ala.  Allah menyebutkan orang-orang sabar dengan berbagai sifat dan menyebutkan kesabaran di dalam Al-Qur’an lebih dari sembilanpuluh tempat. Bahkan Allah menambahkan keterangan tentang sejumlah derajat yang tinggi dan kebaikan, dan menjadikannya sebagai buah dari kesabaran. Firman-Nya: “Dan sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka perbuat.” (An-Nahl: 96).

Dalam ayat lain Ia berfirman, “…dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Inna lillaahi wa inna illaihi raajiun, sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami pasti kembali kepada-Nya.” (QS-Al-Baqarah: 155-156).

Orang yang meminta kepada Allah agar musibahnya cepat diselesaikan pada hakekatnya sama dengan menyaingi kehendak Dzat Yang Maha Mengatur, karena musibah yang ada telah ditetapkan batas waktunya. Perbuatan itu menurut Sa’id Hawwa dalam kitab ‘Mensucikan Jiwa’ bukanlah maqam al ‘ubudiyah (derajat kehambaan) yang baik. Maqam yang tertinggi bagi hamba adalah ridha (menerima apa yang diberikan oleh Pencipta). Sedangkan sikap yang sewajarnya untuk dilakukan adalah berdoa memohon kepada Allah agar menambahkan kadar kesabaran pada dirinya. Dan rela menerima cobaan (syukur) dengan memperbanyak berdoa adalah bentuk kepasrahan diri seorang hamba kepada Tuhannya yang terbaik.Maha suci Dzat Yang Maha Menguji ciptaan-Nya melalui perasaan ketakutan dan kehinaan. Hal ini agar dia mengetahui mana hamba-Nya yang bersabar dan tidak. Allah juga akan mengetahui kualitas hamba-Nya melalui ujian yang diberikan kepadanya.

Nabi Adam alaihi sallam yang dihormati oleh para malaikat tidak lama kemudian juga turun dari surga. Nabi Ibrahim alaihi sallam dilemparkan kedalam api yang tidak lama kemudian keluar dengan selamat. Nabi Ya’qub alaihi sallam menjadi buta karena perpisahan anggota keluarga namun pada akhirnya sembuh dengan pertemuan. Nabi Musa alaihi sallam disibukan dengan gembalaan kambing yang selanjutnya diberi kehormatan dengan wawancara langsung dengan Allah Ta’ala. Dan Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang pada awalnya menjadi anak yatim dan hidup dalam keadaan miskin, namun pada akhirnya berhasil menaklukan
kota Mekah dan mencapai kejayaan melebihi para kaisar di muka bumi ini.

Demikian balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi mereka yang senantiasa bersikap sabar, syukur dan ridha terhadap ujian yang menimpanya. Dan semoga kita semua senantiasa memiliki sikap terpuji (itu) dalam menghadapi segala macam musibah yang Allah datangkan. Amiin      

Sebaik-baik Bekal

Takwa adalah satu-satunya bekal yang harus disiapkan guna mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Dengan takwa derajat manusia menjadi luhur dan mulia. Ali bin Abi Thalib dalam kutbahnya menyampaikan nasihat agar selalu mempersipkan bekal untuk menyongsong hari esok (akhirat). Dalam nasihatnya beliau berkata;Wahai hamba Allah! Bertakwalah kepada Allah dan bergegaslah (mencari bekal) untuk kematianmu dengan amal kebajikan. Belilah kenikmatan abadi dengan kesenangan dunia yang fana. Bersiaplah untuk perjalanan itu karena kamu sedang di giring dan dipersiapkan dirimu untuk kematian karena ia sedang membayangimu.Jadilah manusia yang siap siaga bila dipangil dan yang mengetahui bahwa dunia ini bukanlah tempat kediaman yang abadi, maka tukarkanlah dia dengan akhirat.

Allah tidak menciptakanmu tanpa tujuan (kecuali untuk beribadah) dan tidak meninggalkanmu dengan sia-sia. Tidak ada sesuatu antara seseorang dikalanganmu dengan surga atau neraka melainkan kematian yang pasti menimpanya. Ajal yang dipersiapkan setiap saat dan sedang digerogoti oleh waktu, harus dipandang sebagai kesempatan yang sangat singkat. Hal yang tersembunyi, yakni, kematian, yang sedang digiring (kepadamu) oleh gejala yang selalu baru, siang dan malam, pastilah cepat mendekat.

Pendatang (kematian) yang sedang mendekat dengan keberhasilan atau kegagalan, patut memerlukan perbekalan yang terbaik. Maka dari itu, selama kamu ada di dunia ini, raihlah perbekalan dari dunia ini, yang akan menjadi pelindungmu di hari esok (akhirat). Setiap hamba harus tetap takwa kepada Tuhannya, dapat menasehati dirinya, mendahulukan tobatnya, mengalahkan hawa nafsunya, karena kematiannya tersembunyi darinya, harapannya telah menipunya, setan dijadikan atasannya dan dia akan menghiasi dosa menjadi indah baginya sehingga dia melakukannya, dan mendorongnya untuk menunda tobat sampai kematian datang, sementara setan masih menghiasi dirinya, yang membuatnya lalai.

Betapa kasihan bagi orang yang hidupnya sendiri akan menjadi saksi terhadap dirinya dan hari-harinya sendiri yang dilewatkan dengan dosa akan mengantarkan kepada hukuman. Kami mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Dia menjadikan kami dan kamu sekalian sebagai orang yang tidak disesatkan kenikmatan dan tak ada yang dapat menahannya dari berbuat taat kepada Tuhannya dan tidak ditimpa penyesalan dan kesedihan setelah mati.amin.

Takhtim

 Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan , “Innaa lillahi wa innaa ilahi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Musibah yang datang silih berganti hendaknya menjadikan diri dan bangsa ini instropeksi terhadap apa yang selama ini telah dilakukan. Sabar dan syukur harus menjadi ‘senjata’ bagi setiap mukmin guna menangkal berbagai ujian yang menimpa, dan takwa merupakan perbekalan yang harus selalu disiapkan setiap saat guna menempuh kehidupan yang kekal dan abadi, yang akan menjadi pelindung dihari akhirat kelak.

Wallahu A’lam bish Showab (na/MDP)

1 Comment

  1. download mp3 music player said,

    music video lemon jelly Robert Palmer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: