BERBEDA (LAGI)

28 December, 2006 at 11:14 am (Artikel)

Hari ini, umat Islam yang melaksanakan ibadah haji di Baitullah sedang melakukan Wukuf di Arafah. Ini menandakan para hujjaaj (pelaksana haji) tengah melaksanakan ritual terakhir dari rukun haji sebelum melaksanakan pemotongan hewan kurban esok hari. Pelaksanaan Wukuf ini sesuai dengan hasil musyawarah Majelis Pengadilan Tinggi Syariah Arab Saudi yang menetapkan hari Wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Jum’at (29/12). Berbeda dengan penetapan yang dilakukan pemerintah Indonesia, Idul Adha (10 Dzulhijjah) jatuh pada Ahad (31/12) (Republika, 22/12)

Disayangkan, hari yang suci ini harus ternodai kembali. Apa yang terjadi setiap satu tahun sekali atau dua kali, tepatnya setiap datang bulan Ramadhan dan bulan Syawal dengan Idul Fitrinya atau bulan Dzulhijjah dengan Idul Adhanya, peristiwa yang menyedihkan selalu terulang. Perbedaan yang senantiasa terjadi dalam setiap perayaan hari raya Islam tersebut merupakan suatu hal yang patut disesali, karena Islam tidak mengajarkan hal demikian.

Sesungguhnya telah jelas apa yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sabdakan, beliau telah memberi petunjuk kepada muslimin agar dalam menentukan perayaan Idul Adha ataupun Idul Fitri tidak terjadi perbedaan, Ia bersabda: “Lebaran (idul fitri)-mu ialah pada hari kamu berbuka; dan idul adhamu ialah pada hari kamu berqurban.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata: “hadits ini hasan gharib” (697).

Dalam hadits serupa beliau bersabda: “Lebaran (Idul Fitri) itu ialah pada hari kamu berbuka (puasa terakhir), dan idul adha itu pada hari kamu berkurban.” (HR. Abu Daud (2324) beliau meriwayatkan hadits ini dalam bab “idzaa Akhtha’a al-Qaumu al-Hilaal” (Apabila Manusia Khilaf dalam Menetapkan Hilal).

Sabda Rasulullah ini menegaskan bahwa pelaksanaan Idul Adha terjadi ketika jamaah haji di tanah suci Makkah sedang melaksanakan penyembelihan hewan kurban yaitu pada 10 Dzulhijjah.  Demikian pula dalam menentukan awal dan akhir suatu bulan, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Apabila terhalang penglihatanmu oleh awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan (sya’ban) 30 hari.” (Muttafaq ‘alaih, al lu’lu wal-Marjan 656).

Hadits tersebut menjelaskan kepada muslimin bagaimana seharusnya menentukan awal dan akhir suatu bulan sehingga tidak terjadi perbedaan. Dan apabila bulan tidak terlihat karena tertutup awan maka diperintahkan untuk menyempurnakan bilangan bulan tersebut menjadi 30 hari. Hadits ini selain untuk mengetahui tanggal 1 Ramadhan, juga berlaku untuk menentukan awal dan akhir bulan-bulan Islam lainnya, termasuk awal bulan Dzulhijjah yang akhirnya menetukan kapan muslimin melaksanakan puasa Arafah dan Idul Adha. Adapun tujuan atau sasaran dari hadits ini menurut DR. Yusuf Qardhawi dalam  fatwa-fatwa kontemporer 2, agar mereka berpuasa sebulan penuh (pada bulan ramadhan), tidak mengabaikan sehari pun dari bulan itu atau berpuasa pada bulan lainnya, seperti Sya’ban, Syawal dan Dzulhijjah. Sebab, diharamkan bagi muslimin berpuasa pada hari-hari yang seharusnya mereka berbuka (lebaran).

Mengenai ketetapan haramnya puasa pada hari raya Islam, Rasulullah bersabda: “Dari abi sa’id al-khudri, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi  wa Sallam melarang puasa pada dua hari, yaitu hari (raya) fitri dan hari (raya) adha.” (Muttafaq ‘alaih, dalam Bulughul Maram, bab Puasa (704)).

Sedangkan pada hari raya kurban, hari-hari tasyriq (tanggal 10-13 dzulhijjah) itu adalah hari-hari dimana muslimin di dunia melaksanakan qurban serta makan dan minum. Dari Nubaisyah Al-Hudzali. Ia berkata: telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Hari-hari tasyiq itu hari-hari makan dan minum dan dzikir kepada Allah ‘azza wajalla”. (HR. Muslim).

Hisab Falaqi

Islam tidak melarang muslimin untuk menggunakan metode hisab (hitungan) dalam menentukan awal dan akhir bulan. Hal ini karena situasi dan kondisi saat ini sudah memungkinkan muslimin untuk melakukan cara menetapkan bulan dengan perhitungan, pesatnya perkembangan sains dan teknologi memudahkan kita dalam menetapkan tanggal awal dan akhir dalam satu bulan.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika hasil dari hitungan hisab falaqi tersebut berlainan atau bertentangan dengan hadis Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam, apa yang harus dilakukan? Dan mana yang didahulukan?

Seperti halnya Idul Adha tahun ini, hasil hisab falaqi dalam menentukan satu Dzulhijjah berlainan dengan hasil ru’yatul hilal. Hasilnya adalah perbedaan dalam melaksanakan hari raya yang semestinya tidak terjadi apa bila muslimin mengedepankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sehingga muslimin tidak melaksanakan Shaum Arafah pada saat jama’ah haji di Makkah sudah menyembelih qurban (10 Dzulhijjah). (Perlu diketahui hasil hisab falaqi di Indonesia menetapkan tanggal 1 dzulhijjah 1427 H jatuh pada hari Jum’at (22 Desember 2006 M). Sedangkan hasil ru’yatul hilal menetapkan hari Kamis (21 Desember 2006) sebagai 1 Dzulhijjah 1427 H (Republika, 22-23/12).

Kembali Kepada Allah dan Rasul

Mengenai perbedaan ini, Allah Ta’ala telah memberikan solusi dalam memutuskan permasalahan yang terjadi di kalangan muslimin. Dalam  Al-Qur’an surat An-Nisa: 59, Allah berfirman: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir…”

Pada ayat lain Firman-Nya: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu …” (QS. Al-Maidah: 49).

Tidak hanya itu, Allah melaknat mereka yang enggan menjadikan syari’at-Nya sebagai satu-satunya pilihan dalam hidupnya. “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An-Nisa: 65).

Satu hal yang perlu dipahami, Makkah merupakan ummulqura (ibukota dunia—red.), kiblatnya kaum muslimin, tempat satu-satunya muslimin menghadapkan wajahnya untuk bersujud kepada Allah Sang Pencipta. Tidak ada alasan bagi orang yang beriman untuk memalingkan wajahnya ke tempat lain, bukan Amerika atau Eropa, bahkan Indonesia.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan darimana saja kemu berangkat, maka palingkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu kearahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar kusepurnakan ni’mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 150).

Adapun perbedaan tempat dalam melihat hilal, di Indonesia ataupun di Arab Saudi bukan suatu permasalahan. Karena ketentuan itu—melihat hilal—berlaku untuk umum, apabila satu kota atau negeri telah melihatnya, sedangkan kota atau negara lain tidak melihatnya maka terlihatnya hilal di kota lain sah dan berlaku untuk seluruh negeri di dunia. (dengan catatan adanya saksi). Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Orang-orang sama melihat bulan lalu aku kabarkan kepada rasulullah saw. bahwasanya aku melihatnya (melihat bulan). Maka berpuasalah beliau (Rasulullah) dan menyuruh orang-orang berpuasa juga.” (HR. Abu Daud (2342), Darulquthni, dan baihaqi dengan isnad sahih menurut syarah muslim).

Dalam hadits lain, dari Ibnu Abbas bahwasanya seorang arab desa datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata: “Sesungguhnya saya melihat hilal, sabdanya: “Apakah engkau mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?” ia menjawab: “Ya”, ia bertanya: “Apakah engaku mengakui bahwa Muhammad itu utusan Allah?” ia menjawab: “Ya”. Lalu ia bersabda: “maka beritahukan kepada manusia, ya Bilal! Agar mereka esok berpuasa”. (HR. oleh “Lima” dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, Nasa’i mentarjihkan kemursalannya, “Bulughul Maram, bab puasa” (674).)    

Hadits di atas menjelaskan terlihatnya hilal itu berlaku untuk semua manusia, sebagaimana Rasulullah memerintahkan kepada seluruh muslimin untuk berpuasa ketika ada saksi yang telah melihat hilal. Dan ini semua dapat terlaksana dengan serempak (tanpa adanya perbedaan) apabila muslimin memiliki seorang imam/khalifah yang ditaati.  

Wallahu A’lam bish Showab (na/MDP)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: