Khiththah Kesatuan Ummat Dalam Perspektif Haji dan Qurban

16 December, 2006 at 2:04 am (Artikel)

اَلْحَمْدُِللهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاتِّباَعِ مِلَّةِ إِبْرَاْهِيْمَ حَنِيْفًا وَجَعَلَ حَجَّ اْلبَيْتِ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْنًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لَهُ اْلأَسْمآءُ اْلحُسْنىَ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلىَ اللهِ بِإِذْنِهِ وَسَرَاحًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اْلمجُاَهِدِيْنَ ِلاِعْلاَءِ كَلِمَاتُ اللهِ هِيَ اْلعُلْياَ. أَمَّابَعْدُ: فَيَاأَيـُّهَااْلمُؤْمِنُوْنَ فَيَاأَيـُّهَااْلمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَىاللهَ فَقَدْ فَازَاْلمُتَّقُوْنَ.فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ,وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

 {الحج:27}

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Sub-hanahu wa Ta’ala.Hari ini kita sedang berada di musim haji. Jutaan manusia yang dianugerahi Allah kemampuan, sedang melaksanakan ibadah haji, menapak tilasi jejak keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagaimana Nabi terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkannya. Dan sebentar lagi tetes darah qurban akan segera membasahi bumi di seluruh antero ummat akhir zaman berada.

Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan pastilah mengandung makna, bukan hanya filsafat hampa apalagi sandiwara yang sia-sia. Ia senantiasa mengandung nilai-nilai luhur yang berguna bagi pribadi dan masyarakat bila dilaksanakan secara benar sesuai dengan tuntunan-Nya. Untuk itu marilah bersama sama kita renungkan makna yang terkandung di dalam ibadah haji dan qurban ini.

Salah satu makna terbesar yang terkandung dalam ibadah haji adalah tentang persatuan dan kesatuan umat. Ajaran ini tercermin sejak para jamaah haji memasuki miqat. Di sini mereka harus berganti pakaian sehari hari atau kebesaran lainnya dengan pakaian ihrom. Pakaian, lambang pola, status dan perbedaan-perbedaan tertentu pada manusia yang  tak jarang melambungkan ke‘aku’an, baik dalam bentuk penonjolan kelompok, kedudukan, golongan, suku, atau bangsa harus ditanggalkan dan diganti dengan dua potong kain putih tak berjahit yang melambangkan kesamaan derajat dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.  

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Sub-hanahu wa Ta’ala.Mulai dari miqat  inilah jemaah haji sudah mentaati perintah yang menghilangkan perbedaan antara si kaya dan si miskin, yang cukup makan dan yang kurang makan, yang dimuliakan dan yang dihinakan, yang bahagia dan yang sengsara, yang terhormat dan orang kebanyakan, yang berasal dari Barat maupun dari Timur. Dengan pakaian yang sama, mereka berangkat pada waktu dan tempat yang telah ditentukan dan akan bertemu pada waktu dan tempat yang sama, Arafah dan Mina. Mereka melakukan aktivitas yang sama dan membaca kalimat yang sama

.لبّيك اللّهم لبّيك لبّيك لاشريك لك إنّ الحمد والنّعمة لك والملك لاشريك لك.  

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, akau ku-penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuatan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Manusia yang terpecah-pecah dalam berbagai ras, bangsa, kelompok, suku dan keluarga, dengan ibadah haji dihimpun oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbagai faktor kesamaan agar menjadi satu. Hal ini mengisyaratkan bahwa muslimin dalam memperibadati Allah subhanahu wa ta’ala dituntut bersatu dalam bersikap dan berbuat.

Lebih jauh Rasulullah menegaskannya pada Hudzaifah bin Yaman, ketika ia bertanya bagaimana cara menyelesaikan problematika yang dihadapi muslimin, saat mereka berpecah belah

:تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ

“Hendaknya engkau tetap dalam Jama’ah Muslimin dan Imam mereka” (HR. Bukhari). Jama’ah adalah wujud kebersamaan dan Imamah merupakan wujud kesatuan.  Kaum muslimin yang dirahmati Allah Sub-hanahu wa Ta’ala.Jika kita sadari, timbulnya gelombang bencana yang tidak ada habisnya hingga saat ini, tentu tidak lain adalah peringatan dari Allah subhanahu wa ta’ala agar ummat manusia, khususnya ummat Islam, menunjukkan KETAATAN dan mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalankan hidup ini.Penyebab terpuruknya muslimin pun tentu tidak lain, karena mereka telah menjauh dari ajaran Islam, telah menjauh dari al-Qur`an dan as-Sunnah. Mereka tidak mengamalkan ajaran dan hukum Islam secara konsekuen, sedang tokoh-tokohnya menggunakan ajaran Islam untuk kepentingan pribadi. Mereka tak dapat memberi contoh yang baik bagi para pengikutnya.

Hilangnya kekuatan umat ini adalah akibat kesalahan umat Islam sendiri, khususnya penyimpangan para tokohnya dari ajaran Islam. Padahal sebenarnya di tangan musliminlah terletak tanggung jawab menyelesaikan problematika umat manusia sebagaimana telah dibuktikan oleh muslimin di masa kejayaannya. Islamlah satu-satunya ajaran jalan menyelesaikan problematika manusia, sayang muslimin sendiri sedang menghadapi problema internal akibat perpecahan, sehingga kian hari kian bertambah lemah dan hilang kekuatannya.Keadaan ini akan terus berlangsung selama muslimin masih tetap berpecah-belah dan tak mau mencari jalan keluarnya.

Mudah-mudahan dengan merenungi makna ibadah haji ini muslimin menjadi sadar, betapa pentingnya kebersamaan dan kesatuan dengan kembali menetapi Jama’ah Muslimin dan Imam mereka seperti yang telah ditetapi oleh sebagian umat Islam sejak tahun 1372 H/1953 M dengan wujud Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Bagi muslimin yang telah menetapi alJama’ah hendaknya menyadari betapa besar tanggung jawabnya dalam turut menyelesaikan berbagai persoalan yang kini melilit umat manusia. Jangan sampai merasa bahwa setelah menetapi al-Jama’ah, persoalan telah selesai.

Menetapi al-Jama’ah baru merupakan langkah awal untuk menyelesaikan persoalan lainnya, seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan sebagainya. Bagi mereka jika tidak bersungguh-sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan mengganti dengan kaum yang lebih baik, yang mampu memikul tanggung jawab yang sangat besar ini. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُوامَنْ يَرْتَدَّمِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَىالْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang yang beriman barangsiapa di antara kamu berbalik dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut pada orang-orang yang beriman, yang bersikap keras pada orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang Maha Luas lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah: 54).

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Sub-hanahu wa Ta’ala.

Mempersatukan muslimin memang tugas besar dan berat oleh karena itu perlu pengorbanan yang besar dan berat pula. Ibadah qurban yang bermula dari perintah Allah pada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk menyembelih putra yang sangat disanyanginya, Nabi Ismail ‘alaihis salam, jelas sangat relevan menggambarkannya. Untuk itu seluruh muslimin wajib meneladaninya dan mulai ambil bagian dalam merealisasikannya di kehidupan sehari-hari mereka. Dalam hal ini sebuah hadits menjelaskan:“Para sahabat bertanya, “apa maksud qurban ini?” Beliau menjawab, “Sunnah Bapakmu, Ibrahim.” Mereka bertanya, “apa hikmahnya bagi kita?” Beliau menjawab, “Setiap rambutnya akan mendatangkan satu kebaikan.” Mereka bertanya, “Bila binatang itu berbulu?” Beliau menjawab, “Pada setiap rambut dari bulunya akan mendatangkan kebaikan” (HR. Ahmad)

Para ahli tarikh meriwayatkan, bahwa kehidupan Nabi Ibrahim adalah kehidupan yang penuh dengan perjuangan, keterlunta-luntaan, jihad dan perang melawan kebodohan kaumnya, kefanatikan penyembah berhala termasuk ayahnya sendiri, penindasan Namrudz. Sedang istrinya sendiri, Sarah, adalah seorang ningrat yang fanatik.Sebagai seorang nabi penyeru Tauhid, Ibrahim melaksanakan tugas berat dalam sebuah masyarakat yang tiran dan penuh perlawanan. Namun setelah seabad lama-nya menanggungkan segala macam derita dan siksaan, ia berhasil menanamkan kesadaran ke dalam diri manusia-manusia akan cinta kemerdekaan dan keberagamaan. Setelah tua Ibrahim menjadi kesepian. Sebagai manusia ia ingin mempunyai anak. Istrinya mandul sedang ia sendiri telah ber-usia seabad lebih. Ia hanya dapat mendambakan. Dan akhirnya Allah melimpahkan karunia-Nya kepada lelaki tua ini, karena ia telah mengabdikan seluruh hidupnya dan karena ia telah menanggungkan penderitaan demi menyebarluaskan syari’at-Nya.

Melalui hamba perempuannya dari Ethiopia yang bernama Hajar, Dia mengaruniai Ibrahim dengan seorang putra, Ismail.

 فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيمٍ

Maka Kami gembirakan dia dengan seorang anak yang sangat penyantun” (QS. ash-Shaffat: 101) 

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Sub-hanahu wa Ta’ala.

Ismail bukan hanya seorang putra bagi ayahnya. Ia adalah buah dambaan seumur hidup Ibrahim. Sebagai putra tunggal dari seorang lelaki tua yang telah menanggungkan penderitaan berkepanjangan, Ismail adalah yang paling dicintai ayahnya. Namun tanpa diduga, ia diperintah Allah untuk menyembelih putranya, harapan dan dambaan hidup yang paling dicintainya. Betapa goncang jiwa Ibrahim ketika menerima perintah ini. Setelah perintah itu ia sampaikan anaknya menerimanya, akhirnya kedua hamba Allah ini pasrah melaksanakan perintah ini. Allah menggambarkan peristiwa dramatis ini dengan firman-Nya:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ.وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ.قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Tatkala keduanya telah pasrah dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya. Dan Kami panggil dia. “Hai Ibrahim, kamu telah membenarkan mimpi (perintah) itu, sesungguh-nya demikianlah Kami membalas kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Kemudian Allah menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar dan inilah yang diabadikan melalui syari’at qurban hingga saat ini. 

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.Jadi qurban adalah perlambang kesediaan seseorang untuk mengorbankan barang yang paling dicintai dalam rangka mengabdikan diri di jalan Allah.Untuk mewujudkan kesatuan dan mengatasi problematika umat ini memang memerlukan pengorbanan, tanpa pengorbanan mustahil bisa terwujud. Oleh karena itu marilah kita qurbankan harta kita, jiwa dan raga kita, harga diri kita, keluarga kita, waktu kita, profesi dan jabatan kita demi terwujudnya kesatuan umat dan terselesaikannya problematika yang melilit umat dewasa ini. Jangan sampai hal-hal yang kita cintai itu menghalangi kita untuk berjihad mewujudkan perjuangan yang besar ini. Insya Allah apa yang kita qurban-kan pasti akan diganti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman

:وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya” (QS. Saba: 39)

Semoga kita mampu mengamalkannya serta menjadikan kita semua menemui syahid di jalan-Nya, Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: